Subhan Aksa Kembali Ke Rally Dunia

2 April 2012. Setelah ikut beberapa seri Kejuaraan Dunia Reli Mobil (FIA World Rally Championship) pada 2008, pereli nasional Subhan Aksa kembali memasuki ajang bergengsi itu dengan persiapan dan semangat lebih. Berbeda dengan keikutsertaan sebelumnya yang sekadar menimba pengalaman, juara nasional 2009 dan 2010 yang juga alumnus APRC (Asia Pacifi Rally Championship) ini memastikan diri akan tampil penuh pada sisa kompetisi WRC 2012. Hal ini terungkap dalam acara press-conference yang berlangsung di Bloeming fX Senayan, Jakarta tadi pagi, Senin 2/4/12.

Seperti pada 2008, Ubang, panggilan anak muda kelahiran Makassar 11 Oktober 1986- ini memilih terjun di ajang PWRC (Production World Rally Championship) untuk pematangan diri dan peningkatan prestasi. Namanya telah diregistrasi FIA pada 6 seri PWRC ke depan.

Seri terdekat yang dilakoni Ubang dengan navigator setianya, Hade Mboi, adalah Rally Argentina pada 27-29 April dengan membesut Mitsubishi Lancer Evolution X yang disiapkan Racetorque Engineering di Perth, Australia, yang selama ini juga menangani pacuan Ubang di APRC.

Di bawah bendera Bosowa Rally Team, ia selanjutnya akan terjun berturut-tirut di Acropolis Rally (Yunani, 25-27 Mei 2012), Rally of New Zealand (Selandia Baru, 22-24 Juni 2012), Rallye Deutchland (Jerman, 24-26 Agustus 2012), Rally d’Italia (Italia, 18-21 Oktober 2012) dan Rally de Espana (Spanyol, 8-11 November 2012). Namun, untuk 5 seri ini, Ubang akan didampingi navigator asal Eropa sementara Hade Mboi berperan sebagai manajer tim.

“Dari pengalaman kami, Rally Acropolis merupakan yang terberat mengingat kondisi trek yang kasar dan temperatur udara yang hampir mencapai 40 derajat Celsius. Tapi, dari pengalaman dan persiapan tahun ini kami yakin bisa tampil lebih baik,” tambah Ubang yang pada 2011 lalu sukses menempati posisi ketiga FIA Pacific Cup.

Menurut Ubang, persaingan di PWRC lebih terbuka dan ia sangat termotivasi untuk meraih prestasi di kelas ini. Pasalnya, ketika PWRC dilombakan sejak 2002 sebagai pengganti Grup N, perimbangan pereli Eropa dan luar Eropa bisa dikatakan seimbang dan faktanya kemudian banyak jebolan PWRC yang naik tahta ke WRC memperkuat tim pabrikan.

Karamjit Sing (Malaysia) tampil sebagai juara dunia 2002, Toshi Arai (Jepang) menjuarai musim 2005 dan 2007, Nasser Al-Attiyah (Qatar) pada 2006, dan Haydon Paddon (Selandia Baru) menjuarai kompetisi 2011. Lima gelar lainnya dipegang pereli Inggris, Austria, dan Portugal.

“Prestasi Karamjit Sing membuat saya terkesan sekaligus terusik. Sejak saat itu, selagi masih remaja, saya membayangkan adanya pereli Indonesia yang berprestasi di kejuaraan dunia. Kesempatan itu kalaupun bukan dicatatkan oleh saya atau di generasi saya, mudah-mudahan bisa dicapai generasi pereli Indonesia berikutnya. Keikutsertaan kami ini mudah-mudahan bisa jadi pintu masuk pereli-pereli nasional berikutnya,” tutur Ubang di acara press conference tersebut.

Menoleh ke belakang, reputasi Karamjit di PWRC memang mencengangkan. Pasalnya, pereli Malaysia itu boleh dibilang banyak belajar dari para pereli Indonesia dan sangat rajin mengikuti event reli di negeri ini. Dan, gelar juara dunia yang dibukukan Haydon Paddon tahun lalu pun mempertegas kalau PWRC bukanlah dominasi pereli Eropa sebagaimana terjadi di kelas WRC.

Ditanya soal target, pria ramah ini menyebut dapat poin saja sudah menjadi hal yang bagus karena akan menjadi poin pertama Indonesia di PWRC.

“Tapi, kalau ada kesempatan menang atau podium, saya dan tim tentu akan berjuang maksimal untuk memanfaatkannya. Yang namanya kesempatan tidak bisa diprediksi kapan datang dan besarannya. Itu bisa menghampiri semua pereli. Yang jelas, yang sudah terdaftar sebagai peserta semuanya punya potensi untuk meraih poin,” paparnya.

Prestasi terbaik Ubang di PWRC 2008 adalah finis ke-10 di ajang salju Rally Swedia. Sayangnya, saat itu FIA hanya mengganjar poin kepada delapan finisher terbaik. Sejak 2010 baru FIA memberlakukan perolehan poin kepada 10 pereli tercepat. Pembagian poinnya sama persis dengan balap Formula 1.

Ubang maupun Hade mengaku perlu persiapan fisik dan mental mengarungi kompetisi ini. Sebagai ajang pemanasan sekaligus upaya mempertahankan gelar nasionalnya, mereka akan turun di seri pertama Kejurnas Reli di Langkat, Sumatera Utara, 7-8 April 2012. “Ubang perlu serangkaan uji coba agar lebih padu dengan Evo X,” tambah Hade.

Direktur Racetorque Engineering Dave Mc Shane menegaskan kegembiraannya atas kerja sama yang berlanjut di PWRC.

“Subhan menunjukkan performa yang menjanjikan di ajang Pacific Cup tahun lalu. Karakteristik yang low-profile, cerdas dan mempunyai raw speed yang baik, merupakan dasar mengapa kami menawarkan program ini sebagai wujud kerja sama kami dengan Mitsubishi Motors Corporation. Kami sudah lama bekerjasama dengan Mitsubishi dan berhasil mencetak banyak gelar di Asia Pacific. Kini bersama Subhan kami akan melakukan yang terbaik di kancah kejuaraan dunia. Harapan kami sangat besar agar program ini berkelanjutan di beberapa tahun ke depan,” kata Mc Shane.

Sekilas PWRC

Dulu kelas ini dikenal sebagai Grup N. PWRC dirilis FIA (Federation Internationale de l’Autombile/Federasi Otomotif Internasional) pada 2002 dengan sedikit perubahan regulasi. Mobil yang digunakan adalah produksi massal dengan modifikasi tertentu yang dibolehkan, misalnya penggunaan turbo dan sistem penggerak 4 roda (4 wheel drive).

PWRC merupakan salah satu kelas pendukung WRC, dilombakan bersamaan dengan event WRC dan menggunakan lintasan yang sama. Kompetisi ini dikelola dan di bawah sanksi FIA. Karenanya peserta yang berhak memburu gelar juara dunia adalah mereka yang terdaftar sebagai permanent entry FIA dengan keharusan mengikuti sejumlah seri yang ditetapkan, seperti musim 2012 ini di mana peserta wajib mengikuti minimal 6 dari 8 seri yang terjadwal.

Tahun ini terdaftar 12 peserta tetap PWRC. Dua seri terdahulu, Rally Monaco dan Mexico, hanya diikuti 3 dan 5 pereli PWRC terdaftar. Karena itu enam seri tersisa bakal menyuguhkan persaingan yang amat terbuka.

Seperti halnya GP2 di ajang balap F1, PWRC adalah gerbang terdekat ke WRC sebagai level tertinggi kejuaraan reli dunia. Nasser Al-Attiyah, contohnya, telah memperkuat tim pabrik Citroen di WRC. Kelas pendukung lainnya adalah SWRC (Super 2000 World Rally Championship) dan WRC Academy yang bertarung dalam satu merek (Ford Fiesta).

ALBUM PHOTO

Leave a Reply