Touring Bro Abe: Jakarta-Palu (Part-2)


22 September 2011
. Artikel ini sebagai kelajutan (Part 1 disini) mengenai touring Jakarta-Palu yang ditulis oleh Abraham Setiyono (Bro Abe). Ia berbagi cerita perjalanan darat dari Jakarta menuju Palu (Sulawesi Tengah) dengan sepeda motor Honda Tiger tahun 2005. Artikel ini adalah sebagai penutup yang menceritakan perjalanan Bro Abe dari Majene Sulawesi Barat menuju Palu Sulawesi Tengah. Anda minat touring ke Sulawesi? Yuk..

Bro Abe bercerita:

Setelah bermalam dan beristirahat di kota Majene, keesokan harinya yaitu tanggal 7 September 2011 pukul 06.00 pagi hari, kami berangkat melanjutkan perjalanan menuju ke Palu. Menurut informasi yang kami lihat di peta, ternyata dari Makassar ke Majene (7 jam perjalanan) dan itu belum separuh dari total perjalanan ke Palu. Baru sekitar 40% perjalanan saja.

Antrian Panjang

Tugas saya yang pertama adalah harus mengisi bensin, karena terakhir kali mengisi adalah ketika di Makassar (full tank). Namun sejak semalam kami selalu kehabisan premium di beberapa pom bensin yang kami jumpai di kota Majene. Tibalah kami di sebuah pom bensin menjelang lepas dari kota Majene.

Tetapi antrian dari kendaraan yang ingin mengisi bensin sangat panjang sekali.. sampai ke jalan raya. Yang saya lihat di TV mengenai kesulitan bahan bakar di luar daerah, akhirnya saya alami juga. Lebih dari satu jam kami ikut dalam antrian, dan Alhamdulillah, tangki bensin Honda Tiger dapat diisi full tank.

Kami lanjutkan lagi perjalanan keluar dari kota Majene menuju kota Mamuju (Ibukota Sulawesi Barat). Propinsi Sulawesi Barat adalah propinsi yang baru berdiri pada tahun 2002, sehingga kondisi jalan terlihat masih mulus. Walaupun ada yang rusak tapi hanya sedikit, masih ada buldozer atau alat berat yang sedang bekerja untuk memperbaiki jalan.

Pemandangan-pemandangan indah selepas kota Majene membuat kami berhenti dulu untuk berfoto. Di sini, sudah mulai banyak jalan mendaki dan berkelok-kelok. Lalu-lintas kendaraan sangat sepi, tidak ada penduduk. Yang ada hanya aspal, pohon-pohon (hutan), serta permukaan tanah yang naik-turun. Beruntung kondisi masih pagi, sehingga udara sangat segar dan membuat kami makin bersemangat.

MAMUJU

Puluk 10.00 kami tiba di kota Mamuju, Ibukota Sulawesi Barat. Di sini kami sudah ditunggu oleh salah satu kerabat keluarga. Walaupun kondisi kami belum lelah, tapi kami singgah untuk bersilaturahmi. Setelah makan dan berbincang-bincang selama 2 jam, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Palu.

Sampai di kota ini, kami baru menempuh 50% perjalanan antara Makassar dan Palu. Antara Mamuju dan Palu tidak ada kerabat keluarga untuk tempat kami singgah. Persinggahan selanjutnya Palu.

Selepas kota Mamuju, kota besar selanjutnya adalah Pasangkayu (merupakan ibukota dari kabupaten Mamuju Utara). Itu pun masih harus ditempuh 7 jam dari Mamuju. Kami masih belum tahu seperti apa medan yang akan kami hadapi nanti.

In the Middle of Nowhere

Menuju Pasangkayu, kami sangat menikmati perjalanan yang mendaki, naik-turun, sepi, hamparan pepohonan hijau di lembah kanan dan kiri kami. Kondisi aspal sangat baik, di sini kecepatan bisa mencapai 80km/jam. Tetapi kewaspadaan harus nomor satu.

Kami harus selalu berhati-hati, karena sewaktu-waktu ada saja jalan yang berpasir saat jalan mendaki atau saat jalan menurun. Kondisi ini membuat saya sulit mengendalikan motor saya karena banyak pasir, membuat motor saya seperti melayang-layang. Sedangkan di sebelah saya kadang-kadang terdapat jurang.

Suatu saat (pukul 15.30) kami menemukan sebuah pom bensin. Melihat indikator bahan bakar kami menunjukkan isi 50%, kami langsung memutuskan untuk mengisi bensin. Dan kondisi kami memang sudah lelah karena berkendara selama 4 jam dari Mamuju. Di sini kami sempatkan untuk sholat Ashar, juga membeli minuman dingin karena udara sangat panas sekali,dan harganya pun 2X lipat.

Di beberapa titik juga terdapat perbukitan yang longsor hingga menutupi separuh jalan. Untung saja tidak ada yang menutupi seluruh jalan. Saat ini sudah pukul 16.42 dan masih belum ada tanda-tanda kota Pasangkayu. Tidak seperti di Jawa yang banyak tanda untuk mencapai kota selanjutnya jaraknya sekian KM lagi. Di sini ada juga, namun sangat-sangat sedikit.

Sekitar kami masih terdapat hamparan hijau (mulai banyak perkebunan sawit), perbukitan, naik dan turun tak henti-henti. Mulai pukul 17.00, kami melihat awan mendung di arah utara yang merupakan tujuan kami.

Namun kami masih terus melaju walaupun ada perasaan was-was karena akan turun hujan di daerah sepi antah berantah, in the middle of nowhere. Pukul 18.00 mulai gelap, tapi kondisi mulai datar dan lurus, sehingga kami bisa melaju dengan kecepatan 80-100 kpj.

Pasangkayu

Pukul 19.30 kami melihat titik-titik cahaya di depan kami. Mulai banyak bangunan toko dan rumah di sekitar kami, ternyata inilah kota Pasangkayu. Betapa senangnya kami kembali menemui banyak orang setelah berjam-jam berkendara di tempat yang gelap dan sunyi. Kami beristirahat dan makan selama satu jam di sini.

Walaupun kota, tapi tidak banyak kendaraan yang melintas. Hanya ada beberapa truk dan minibus yang lewat. Minibus seperti Toyota Kijang atau Suzuki APV yang masih bagus-bagus ternyata merupakan kendaraan umum (public transport) antar kota. Dapat dilihat dari plat nomornya yang berwarna kuning.

Pukul 20.30 kami lanjutkan perjalanan. Di kota Pasangkayu ini kami juga sempatkan untuk mengisi bensin, walaupun indikator bensin menunjukkan isi lebih dari separuh. Hanya mengantri sekitar 7 kendaraan, kamipun mengisi bensin hingga full tank.

Sulawesi Tengah

Selepas mengisi bahan bakar, apa yang tadi kami khawatirkan pun terjadi. Hujan rintik-rintik mulai turun, sampai akhirnya hujan deras. Kamipun menepi, dan mulai menggunakan jas hujan. Kami lanjutkan perjalanan dengan perlahan-lahan karena hujan deras dan sangat gelap. Keluar dari kota Pasangkayu kondisi jalan masih mulus dan datar, hanya masih sedikit berkelok-kelok. Di sini kecepatan 40-60kpj.

Kami terus melaju sampai akhirnya hujan pun reda satu jam kemudian. Pukul 21.30, saya pun mulai merasa mengantuk yang amat berat. Demikian juga dengan Armin, helm nya mulai beradu dengan helm saya. Saya pun berusaha menahan kantuk sambil mencari masjid untuk istirahat.

Namun masjid yang kami cari tak kunjung terlihat. Sampai akhirnya ada sebuah masjid di sekitar rumah penduduk. Kami pun tidur selama satu jam. Armin memang sangat kompak, selalu dalam kondisi yang baik, karena dia memang mempunyai hobi pendaki gunung.

Setelah istirahat satu jam dirasa cukup, dan kami berniat melanjutkan perjalanan hujan deras pun turun lagi. Namun kami sudah siap dengan rain gear kami sehingga dapat langsung melaju kembali. Tidak ada petunjuk mengenai daerah yang kami lalui ini. Apakah sudah masuk Sulawesi Tengah atau masih Sulawesi Barat.

Sekitar pukul 23.00 kami masih melaju dengan kondisi hujan ringan sampai akhirnya hujan mereda. Mulai ada patok bertuliskan DGL 16 (Donggala 16 KM lagi), lalu DGL 13, dan seterusnya. Hal inilah yang selama ini tidak terdapat di Sulawesi Barat. Kami sudah memasuki Sulawesi Tengah.

KOTA PALU

Perjalanan menuju Donggala mulai mendaki lagi. Ternyata kota Donggala ada di dataran tinggi. Kali ini di sebelah kiri kami adalah tikungan curva C dengan pandangan ke bawah adalah tebing dan lautan. Udara sudah cukup cerah sehingga cahaya bulan cukup terang. Pukul 23.30 di sini sudah sangat sepi, tetapi suara deburan ombak di sebelah kiri kami terdengar sangat keras. Kondisi yang cukup menyeramkan.

Setelah menembus kota Donggala yang sedang tertidur, kamu mulai melihat patok-patok yang menandakan kota Palu tinggal belasan KM lagi. Dan di hadapan kami pun terdapat dataran rendah yang gemerlap bercahaya dan berkilau laut didepannya karena merupakan refleksi cahaya. Itulah kota Palu yang kami tuju. Kota yang sangat indah bila dilihat dari dataran tinggi Donggala.

Pukul 00.30 akhirnya kami pun tiba di jantung kota Palu, lalu menghubungi Sepupu kami yang bernama Zhani untuk mengantar kami ke rumahnya. Tengah malam di kota ini masih terlihat ramai.

Beberapa warung tenda masih buka untuk melayani beberapa pembeli. Banyak pula restoran dan cafe yang terang benderang. Tak lama kami pun sampai di rumah Zhani, dan beristirahat.

Esok paginya Saya, Armin, dan Zhani berkeliling kota Palu untuk melihat-lihat, dan berfoto tentunya. Di Kota ini juga kami sempat dijamu oleh TFC Palu (Tiger Fans Club Palu).

Saya mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Allah SWT, yang telah melindungi kami dalam perjalanan, dan membuat segala sesuatunya terjadi.
  2. Keluarga saya tercinta, terutama istri saya yang telah merestui perjalanan. Maaf, ayah ninggalin bunda dan baby adam beberapa hari..
  3. Orang tua kami, baik yang di Jakarta maupun di Makassar.
  4. Adik-adik saya di Jakarta, dan adik-adik ipar di Makassar (Especially Armin)
  5. Kerabat keluarga di Majene, Mamuju, dan di Palu (terutama Zhani banyak bantuannya).
  6. Rekan-rekan bikers (Bro Faisal HTML Surabaya, Bro Indra dan Bro Adit HTML Makassar, Bro Eko MTC Makassar, Bro Decky TFC Palu).
Please follow and like us:

Leave a Reply

  1. Tangguh orangnya..Salut buat Bro Abe..Tangguh motornya…Salut buat Tiger…Kalo tiger sih tak perlu comment banyak, sudah teruji..

    • thanks chek gu.. please come to sulawesi. beautiful view, beautiful food, nice people.. 🙂
      *highly recommended*

  2. mantap mas brO!!! ngomong-ngomong coba deh mas bro turing trans sulawesi bukan lewat majene, tapi lewat makasar-palopo-mangkutana-tentena-poso-parigi-Palu… hehe.. katanya lebih bagus pemandangannya.. nice trip!!

  3. Klo boleh tau hbis biaya brp bro#untuk perginya saja.rencana mau soloriding kesulawesi utara thn depan(bru baca artikelnya bro abe)