The Art of Motorcycles: Tribute to Nur Kholis

21 Agustus 2011. Sebuah ajang seni rupa “Parade Kemerdekaan Motor & Gerakan Seni Rupa Indonesia” digelar di Taman Budaya Yogyakarta dari tanggal 18 s/d 23 Agustus 2001. Acara ini dihelat untuk menjawab populasi sepeda motor dikalangan masyarakat, dan sekaligus pameran diapresiasikan untuk mengenang karya seni perupa Alm. Nur Kholis. 

Gaya hidup terutama dikalangan anak muda saat ini, adalah menggunakan sarana transportasi sepeda motor yang semakin hari terus berkembang mengikuti dinamika kreatifitas dikalangan anak muda tersebut. Arus informasi elektronik seperti internet saat ini terbuka dengan luas dan ini turut andil mempengaruhi gaya hidup kaum muda.

Hasilnya, mereka yang memiliki “passion” dengan sepeda motor, tidak lagi memfungsikannya hanya sebatas sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai media menyalurkan kreatifitas mereka. Dari sinilah muncul gagasan untuk membaca, mewacanakan, dan mengapresiasi arus kreatifitas ini dalam acara pameran yang bertajuk “The Art of Motorcycle” .

Alm. Nur Kholis, adalah seorang seniman yang karya seninya terpajang di sebuah museum ternama di Jepang, beliau juga adalah seorang pecinta motor sekaligus ketua organisasi motor tertua di Jogjakarta, yang mengawali gagasan untuk membaca bahwa apa yang dilakukan para pecinta sepeda motor terhadap motornya adalah sebuah gerakan seni rupa. Dan keinginan ini disambut baik oleh Taman Budaya Yogyakarta dengan membantu menyelenggarakan acara pameran tersebut.

Namun takdir berkata lain, pada Jum’at, 15 April 2011, Tuhan telah memanggil Nur Kholis sebelum niatnya terwujud, rekan-rekan seni rupa dan komunitas motor, beritikad mendedikasikan pameran ini sebagai penghormatan terakhir untuk beliau. Dan untuk itu, judul pameran ini di sepakati menjadi “The Art of Motorcycle: Tribute to Nur Kholis”.

Momen penyelenggaraan pameran yang bertepatan dengan peringatan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia ke – 66 adalah sebuah simbol parade kemerdekaan visual motor dalam kontekstual gerakan seni rupa khususnya di Indonesia.

Tujuan Pameran

Pameran ini hendak menjadi pintu yang mempertautkan dunia motor custom dengan dunia senirupa kontemporer agar terjadi sebuah interaksi yang saling memberikan kontribusi positif diantara keduanya.

Dengan pameran ini diharapkan tumbuh sebuah wacana tentang sebentuk gerakan seni rupa yang sebelumnya berjarak dengan senirupa yang telah mapan wacana, dan memberikan peluang apresiasi terhadap karya motor custom yang sedang berkembang.

Kedepan, diharapkan dunia seni motor custom Indonesia berkembang menjadi bagian dari seni budaya yang layak mendapatkan apresiasi, dan dalam jangka panjang menuju wacana seni motor custom yang memiliki ciri khas Indonesia.

Pameran ini merupakan bentuk penghargaan terakhir kepada Bapak Nur Kholis, seorang seniman dan pecinta motor sekaligus ketua salah satu organisasi motor di Jogjakarta, yang merupakan penggagas awal pameran ini.

Pameran The Art Of Motorcycles: Tribute to Nur Kholis

Pameran ini akan menggelar karya-karya motor custom dari segala jenis motor dan merek, yang sudah tentu karya tersebut akan melewati seleksi kuratorial terlebih dahulu oleh alm. Nur Kholis dan Bram Satya. Beragam karya seniman seni rupa ternama dan lebih dari 40 motor berbagai jenis akan dipamerkan kepada penikmat seni rupa dan motor.

Selain itu pameran ini juga akan menyajikan karya seni rupa murni yang memiliki ketertarikan dalam hal konsep tentang pertemuan antara kreatifitas modifikasi motor dan segala ekspresinya dengan bidang seni rupa itu sendiri, dan atau menggunakan motor atau turunannya sebagai medium seni rupa. Format demikian diharapkan akan lebih merapatkan pertemuan dunia seni rupa dengan dunia motor custom.

Pameran ini terbuka untuk pengunjung umum dan diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani no.1, Yogyakarta, dari Tanggal 18 s/d 23 Agustus 2011. Pameran dibuka secara resmi oleh Ibu Heti Nurani (Istri Alm. Nurkholis) dan Indrodjojo Kusumonegoro (Indro Warkop).

Dalam sambutanya, Indro menyampaikan bahwa motor yang sudah mangalami perombakan merupakan sebuah harmoni yang muncul dari keterikatan motor dan pemiliknya. Esensi inilah yang mengantarkan motor sebagai bagian dari karya seni, dan harmoni seorang seniman adalah sebuah proses yang paling jujur.

Selain itu Indro juga menegaskan bahwa keberadaan figur Alm. Nurkholis sebagai sahabat dan seniman yang akan selalu mendapat tempat dikalangan seniman, khususnya mengenai gagsan beliau pasti akan selalu dturunkan dan dirawat dari setiap generasi yang terhubung dengan motor dan seni rupa di Indonesia.

Pada saat yang sama dibacakan amanat dari Kepala Taman Budaya Yogyakarta, GBPH Yudhoningrat yang berisi mengenai perlunya membawa dan melestarikan khasanah budaya Yogyakarta untuk lebih dikenal secara luas, selain itu beliau juga sangat mendukung gagasan penyelenggaraan acara ini.

Lulut Wahyudi selaku ketua panitia menegaskan bahwa ini adalah pameran yang tidak biasa dan mungkin baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia, yang harus terus di lestarikan untuk memperkenalkan karya seni rupa Indonesia kepada dunia.

“Pameran ini sangat bersifat emosional karena penggagas dan kurator utama Alm. Nurkholis tidak sempat menyaksikan apa yang menjadi impian beliau, namun kita sebagai rekan-rekan beliau berkewajiban untuk menggerakkan seni rupa dalam konteks hubunganya dengan motor secara konsisten”, tandas Bram Satya selaku kurator utama melanjutkan Alm. Nurkholis.

Dalam acara pembukaan disampaikan tanda kasih dari rekan-rekan seniman kepada keluarga Alm. Nurkholis yang disampaikan oleh perwakilan Taman Budaya Yogyakarta Yamiek Suharyatno, dan diterima oleh Ibu Heti Nurani, istri Al. Nurkholis.

Pameran The Art Of Motorcycles: Tribute to Nur Kholis menampikan beragam karya yang terhubung secara langsung dengan dunia motor dan visual seni rupa secara utuh.

Tercatat 65 karya lukis, 45 motor custom dan 12 karya instalasi dipamerkan kepada pengunjung umum. Beragam karya ini sangat dekat dengan keintiman visual yang menghubungkan senir rupa dan motor dengan beragam ekspresi.

Tampak beberapa karya yang secara aktual menyampaikan kritisi kepada pemerintah, salah satunya adalah karya Stefan Buana yang berjudul “Agar supaya SBY pemerintahanya tidak berjalan mundur dan selalu berjiwa muda – jadilah Bikers “ karya sebuah jam roda yang berdetak mundur dan karikatur presiden SBY.

Selain itu nampak pula instalasi “Wayang Motor” karya perupa Ambar Pranasmara yang menampikan imaginasi harmoni mekanik antara seni budaya dan motor. Sebagai bentuk penghormatan kepada Alm. Nurkholis, ditampilkan karya seni rupa terakhir dan motor beliau.

Beberapa Karya visual motor juga memeriahkan acara ini antara lain motor custom Kyai Perkoso motor dengan motif batik karya Lulut Wahyudi, punggawa retro classic cycles dan juga instalasi bebunyian motor karya Leon seniman dari New Zealand yang sudah tujuh tahun menetap di Indonesia dan mengamati beragam aspek seni rupa dari motor dan lingkungan yang membentuknya. Sebagian hasil dari karya yang terjual akan diserahkan kepada keluarga Alm. Nurkholis.

Menurut Lihar, salah seorang pengunjung yang tengah mengamati karya lukis yang berjudul “Menaklukan Dunia” Karya perupa Seruni Bodjawati, pameran ini sungguh menarik dan layak untuk mendapat apresiasi.

“Harapan saya pameran ini untuk kedepannya bisa terselenggara lebih baik, dan menampilkan karya seni yang lebih banyak karya lagi, namun untuk saat ini saya kira ini sebuah pameran yang luar biasa dan pantas untuk mendapat antusias dan respek dari masyarakat” ungkapnya.

Acara ini terselenggara atas dukungan dari Seniman Seni Rupa Yogyakarta, MAC (Motor Antique Club) Yogyakarta, JAC (Jogjakarta Automotive Club), Komunitas Custom Bike Builder Yogyakarta, Komunitas Hot Rod Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta.

Kurator: Bram Satya 087881518392
Ketua panitia: Lulut Retro 0811253596
Taman Budaya: Yamiek Suharyatno 0818261209
Informasi: Aan Fikriyan 0817250491

 

Please follow and like us:

Leave a Reply