Sekilas Reuni Bus Klasik 2011

8 April 2011. Satu agenda terlewatkan dan tak diliput oleh SL.com, yaitu “REUNI BUS KLASIK” yang menampilkan bus era tahun 1970-1980-an. Acara digelar oleh “Jakarta Bus Society (JakBuS)” yang menampilkan sejarah bus di Indonesia dalam acara reuni hari Sabtu (26/3/11) yang lalu dengan tajuk “Dari Penggemar Bus untuk Bus Indonesia”.

Tidak banyak orang yang memperhatikan bus. Walaupun bus ada dalam keseharian mereka. Jika tak naik bus pun, pasti bus akan terlihat jika kita menyusuri jalan-jalan di Jakarta. Bus ada namun terlupakan. Tak banyak yang tahu bahwa sejarah perkembangan bus di Indonesia dimulai dari Jakarta. Ya, dari rencana kota metropolitan ini untuk membangun sistem transportasi.

Di tahun 1960-an pemerintah Indonesia mendapat bantuan dari USAID berupa bus DODGE untuk armada bus kota. Jalur-jalur bus seperti bus bernomor trayek 209, 208, 210, 213, 41, 43, 45, 46, 45, 57, dan masih banyak lagi adalah warisan kelanjutan program bus kota ini. Mungkin sebagian anda masih ingat terminal di lapangan Banteng?

Masih ingat GAMADI, Pelita Mas, Sudaranta atau ARION?  Wah.. yang bisa diingat SL.com pada awal tahun 1980-1983 masih ada bus DODGE warna biru dengan rute antara Blok M-Pondok Labu, kalau tidak salah nomor trayek 106.

Rupanya, sejak tahun 1977 pemerintah Jerman sudah memasok bus Mercedes-Benz sebagai bentuk bantuan pemerintah. Kerjasama ini berlanjut dengan pembangunan pabrik perakitan Mercedes-Benz di Wanaherang pada tahun 1979 dengan bendera German Motor Manufacturing (GMM). Di pabrik tersebut hingga saat ini, hampir semua produk Mercedes-Benz sudah dirakit, mulai dari jenis sedan hingga bus.

Sejak saat itu Mercedes-Benz memproduksi bus dalam bentuk chasis maupun utuh. Bahkan tidak sedikit bus-bus rakitan Wanaherang diekspor ke berbagai negara tetangga. Mercedes-Benz menjadi pelopor perakitan bus utuh di Indonesia.

Melalui acara ini REUNI BUS KLASIK, pihak penyelenggara JakBuS ingin mengingatkan masyarakat pada masyarakat ada banyak hal dalam dalam industri bus di Indonesia, lebih dari sekedar alat transportasi belaka. Acara diawali dengan konvoi bus peserta menyusuri jalan-jalan di Jakarta, mengambil start di Parkir Timur Senayan, menyusuri jalan protokol Ibukota DKI Jakarta dan berakhir di arena parkir JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Bus-bus yang terlibat dibuat dari tahun 1979 hingga 1995. Baik bus yang terawat sejak pertama kali dibeli yang biasa disebut orisinal, hingga bus modifikasi yang terbilang unik baik milik pribadi, perusahaan otobus maupun instansi pemerintah.

Panitia menghadirkan bus Mercedes-Benz tipe chasis OF-1113 dari tahun 1979 milik PPD berkaroseri GMM dan Superior dari Amalgam, serta bus berkonsep Safari tahun pembuatan chasis 1982. Di era 1980-an dengan tipe mesin belakang OH-1113 ada bus Semi Caravan milik Alegra Wisata tahun pembuatan 1989.

Ada pula bus milik Desiana wisata dengan modifikasi yang berani, yakni menambah fitur suspensi udara meski chasis-nya berangka tahun 1988. Selain itu untuk menunjukkan perawatan adalah kunci utama dalam mengelola transportasi bus panitia menghadirkan bus milik PO Raya, yang masih melayani penumpang Solo-Jakarta hingga kini.

JakBuS menampilkan bus dari sisi positif demi kemajuan transportasi bus Indonesia karena tak banyak yang peduli akan keberadaan bus. Padahal, metamorfosa bus tak terlepas dari perkembangan peradaban dan teknologi transportasi. Namun sayangnya, kebanyakan orang hanya melirik moda transportasi lain yang sifatnya lebih pribadi daripada yang bersifat angkutan massal.

Contohnya, perkembangan sejarah perakitan bus Mercedes-Benz ini juga diikuti perkembangan industri karoseri di Indonesia. Sebut saja New Armada, Rahayu Santosa, Laksana Trijaya Union, Amalgam, Superior, hingga Adiputro yang awalnya membuat kendaraan minibus ikut berkontribusi perkembangan karoseri di Indonesia.

Sumber foto & text: PT Mercedes-Benz Indonesia (edited by SL.com)

Please follow and like us:

One thought on “Sekilas Reuni Bus Klasik 2011

  1. Sayang moment bagus dan langka ini gue ngga ikut, mudah-mudahan tahun depan gue bisa ikut. Hidup bus Indonesia.

Leave a Reply