Warga Tidak Peduli Kampanye Helm SNI

2 April 2010. Heran! Kenapa ya koq masih ada warga masyarakat yang sangat tidak peduli dengan penggunaan helm? Bukankah helm dipakai gunanya untuk melindungi dan menjaga keselamatan? Fakta-fakta di lapangan memang masih banyak pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm dengan alasan karena jarak dekat, tidak mau repot, gak punya helm, dan sebagainya.

Nah, kalo kita lihat di acara “BSN Kampanyekan Helm SNI” yang berlangsung di Parkir Selatan, Senayan, Jakarta hari Kamis 1 April 2010 yang lalu ternyata disana banyak kendaraan sepeda motor yang lagi berlalu-lalang disekitar lokasi ditemukan tidak pakai helm atau mereka tidak peduli dengan kampanye helm SNI.

Padahal di lokasi acara terdengar suara jelas teriakan-teriakan MC mengundang masyarakat untuk ganti helm baru, tapi sayangnya masyarakat luar masih banyak yang tidak peduli. Tak cuma suara MC yang berdengung dengan keras, tapi juga ajakan penyanyi dangdut ‘Aksi Joget Kampanye Helm SNI’ sepertinya masih belum mempan untuk mengajak semangat masyarakat mau menggunakan helm. Mungkin mereka lagi menunggu sampai kecelakaan itu terjadi, atau sampai  membuat kepala sampai berdarah-darah bocor, nah barulah kesadaran itu akan timbul.

“Wah pak.. saya bukannya tidak mau pakai helm, tapi ini motor pinjaman, yang punya motor gak kasih helm-nya untuk dipinjam,” tutur pria muda yang berhenti di sekitar lokasi melihat-lihat keadaan dari kejauhan. Ketika ia diajak masuk ke lokasi acara untuk mendapatkan helm baru, iapun enggan melangkah. “Biarin aja pak.. saya males kedalam, lagian saya gak perlu helm itu,” ujar pria parlente ini.

Wah.. emangnya orang tersebut mau pakai helm apa ya? SL.com sendiri menjadi tertawa geli di dalam hati mau menimpali maksudnya, apa mas masih pake helm cetok? Bingung.. asli bingung. Tapi itulah keadaan yang sebenarnya yang terekam di luar arena dimana SL.com ketika itu sedang istirahat duduk di trotoar dan secara tak sengaja melihat warga masyarakat yang tidak peduli dengan penggunaan helm. Yang pasti pada umumnya masyarakat masih belum peduli soal penggunaan helm, apalagi yang dengan helm SNI. Pasti masih banyak warga yang tidak mengerti dengan helm SNI.

So, gimana nih solusi menyadarkan masyrakat kita mau pakai helm, serta pakai helm dengan label atau emboss SNI? Silahkan tinggalkan komentar dan pendapat anda semoga halaman ini dibaca oleh seluruh aparat yang berkepentingan.

Please follow and like us:

13 thoughts on “Warga Tidak Peduli Kampanye Helm SNI

  1. wahhh, parah banget ini, padahal tinggal belok doang, tapi kok susah..
    dasar orang indonesia ..

  2. andrew_endrow says:

    belok juga belum tentu dapat helm…
    denger2 dari berita, caranya dapat helm rumit.makanya pada males mampir

    • yg bikin males warga harus barter helm lama dan nambah duit 65 ribu.. sedangkan harga jual helm baru yg bakal didapat sekitar 250 ribu.. hmm hitung2 ada selisih 185 ribu. jadi kalo warga bawa helm cetok atau helm busuk.. berarti helm bekasnya dihargai 185 ribu..

  3. Maaf mas, memang saya setuju dengan SNI, tapi tidak perlu lah bilang mereka stupid.. kebanyakan mereka adalah kalangan yang memang ekonomi lemah dan kurang terpelejar.. mereka terlalu sibuk memikirkan kelangsungan hidup ekonomi mereka untuk peduli dengan kampanye SNI , kita tidak akan pernah mengerti sudut pandang mereka kalau kita belum berusaha melihat dari kacamata mereka… tugas kita yang lebih terpelajar bukan bilang mereka stupid.. tapi kita harus sabar dan terus memberi himbauan karena ini demi keselamatan mereka sendiri..

    • @bro Maman,
      Terima kasih sudah berkunjung di halaman ini.. soal stupid menunjukkan emosi saya secara pribadi, karena faktanya saya lihat masih banyak pengendara motor pake helm cetok. Bagi mereka dlm kondisi ekonomi lemah, hal ini bisa dimaklumi, dan saya setuju harus lihat dari sudut pandang mereka. Tapi mudah2an ini ada perubahan karena dorogan peraturan pemerintah UULAJ No. 22/2009 soal helm SNI untuk menyadarkan mereka agar tidak lagi pakai helm cetok.

      Yg menarik, justru pemakaian helm cetok kebanyakan dari kalangan ekonomi mampu, sepertinya mereka tak peduli dengan helm. Ini bisa saya lihat dari jenis motornya, bajunya, jaketnya, kosmetiknya, tujuan ke mall, ke kampus, kerja di kawasan perkantoran elite, dsbnya. Ketika ditanya, alasan mereka adalah males bawa helm bagus, suka hilang diparkiran, dsb-nya. Nah, yang beginian sulit untuk mencari sudut pandang yg tepat.

      Kalau melihat sosok pribadi orang dari foto ini, ybs adalah orang kantoran dan ia sudah menyadari kalau helm cetok memang harus diganti dengan helm SNI. Btw, segera menyusul sebuah artikel menarik mengenai “Sepekan Setelah Gaung Kampanye Helm SNI” dimana SL.com akan menjepret di beberapa lokasi bagi mereka yg masih pakai helm cetok, atau tidak pakai helm. Tentunya fakta2 yg ditemukan di jalan umum.

      • Dear Bro Stephen

        Pada dasarnya saya menyetujui pendapat bro…pada dasarnya memang kesadaran pengendara motor mengunakan helm asal2an saja. Kalo dibilang berdasarkan perekonomian…. mereka bisa menyicil motor tiap bulan…tetapi tidak sanggup membeli helm yang benar2 standar SAFETY RIDING. Tidak perlu mahal kok….tetapi aman dan sesuai peraturan lalu lintas untuk penggunaan helm tersebut.

        Jangankan helm cetok…helm full face saja..sering saya liat bisa copot dari kepala pengguna nya 🙂 .. sepertinya helm sudah benar..tetapi tidak menggunakan tali helm nya.

        Demikain pendapat saya mengenai penggunaan helm di negara tercinta kita ini. PEACE !!!

  4. saya rasa bagus ada UULAJ No. 22/2009 ttg SNI, mnimalisir korban….
    tapi saya sring brtanya-tanya, knp gk ada undang2 ttg kondisi jalanan….
    saya rasa msih byk jalanan di ibukota yg tdak memenuhi standar keselamatan….

  5. Memang susah mengubah kebiasaan / mindset seseorang sekalipun perubahan itu bertujuan untuk kebaikan orang tersebut. Banyak di antara mereka yg pake helm bukan dikarenakan kesadaran akan keselamatan tapi karena terpaksa / takut ditilang. Di daerah BSD – Serpong kalau malam (apalagi malam minggu) banyak kita jumpai orang2 naik motor tanpa helm, banyak yg msh remaja bercanda-ria sambil kadang2 ngebut. Memprihatinkan memang.

  6. masyarakat males krn dah bosen dgn cara” pemaksaan dari pemerintah seperti ini. khas bgt gaya birokrat UUD, kalo gak ngikutin aturan ini, sekian Rupiah sanksinya….
    dan masyarakat tau, Rupiah hasil sanksi itu gak balik u/ kebaikan/kepentingan publik….

  7. […] Sebagai referensi baca artikel sebelumnya, antara lain BSN Kampanyekan Helm Standard Nasional Indonesia, dan Warga Tidak Peduli Kampanye Helm SNI. […]

Leave a Reply