Jakarta, 15 Desember 2009. Ini kisah dari sesepuh yang sudah botak dan punya uban, bagi mereka yang mengaku masih muda jangan baca, apalagi meniru!
‘TigiBlack’ alias [TB] adalah julukan untuk motor harian Honda Tiger tahun 2004 yang selalu dipakai beraktifitas atau operasional harian. Yang punya motor dikenal adalah orang sudah berumur lanjut. He.. he.. he.
Weekend kemarin (Sabtu, 12/12/09) si TB saya jajal untuk perjalanan satu hari antara Jakarta-Bandung (pp) dalam rangka menghadiri, sekaligus meliput acara Ultah HTML Ke-9 yang berlangsung di Bandung.
Sebagai anggota HTML dengan NRA HTML 668 dari Wilayah Jaksel, sang pemilik motor TB mendaftarkan diri alias bayar tiket acara Rp.35 ribu disaat kopdar HTML Jaksel yang berlangsung Jumat malam (11/12/09) di Cilandak Mall, Jl. KKO Cilandak, Jaksel. Menurut agenda, keberangkatan atau waktu start HTML Jaksel yang mau ke Bandung dimulai pukul 01.00 dini hari (subuh).
Saat itu saya hanya berfikir singkat soal keluarga, sebaiknya saya pulang dulu dan mengajak keluarga dirumah untuk ikut menyusul teman-teman yang sudah meluncur ke Bandung, karena rundown acara ultah HTML baru dimulai Sabtu 12/12/09 pukul 12.00 siang. Ini adalah rencana awal, kalau keluarga saya jadi mau ikut ke Bandung maka saya akan membawa mobil.
Keesokan harinya, saya membicarakan soal keberangkatan ke Bandung ini dengan istri, sekaligus mengajak keluarga apakah mereka mau ikut serta ke Bandung. Ternyata keluarga tidak ingin ikut serta, tapi mereka membutuhkan mobil agar tetap berada dirumah.
Tak ayal lagi saya pun bergegas mempersiapkan motor kesayangan si TB dengan kondisi apa adanya. Tidak ada persiapan apapun untuk perjalanan ke Bandung dengan motor karena sifatnya memang dadakan (maksudnya buat yang punya motor, maupun motor TB tersebut).
Untuk persiapan awal, si TB dimandikan agar motor ini tak rewel atau tidak ngambek di tengah jalan. Sebuah tas ransel berisikan baju ganti, peralatan kamera langsung dimuat ke dalam box. Sepertinya si TB hanya dipakai menuju ke kantor seperti di hari kerja. Saya pun hanya mengenakan pakaian seadanya saja, yaitu pakai celana jeans, t’shirt dan sepatu boot Kings. Jaket yang dipakai pun hanya pakai jaket gunung Highcamp.
Tepat pukul 09.00 saya meninggalkan rumah dengan memperhatikan kondisi terakhir motor TB, antara lain ban belakang Battlax yang sudah botak, ban belakang pakai ban dalam, shock belakang sudah tak stabil, dan ban depan semi botak. Untuk yang lainnya seperti soal mesin, oli, kanvas rem, kabel kopling dan kabel rem sepertinya tidak ada masalah.
Oh ya.. saya melumasi rantai motor dengan gemuk harapannya agar rantai tidak putus di tengah jalan mengingat saya tidak punya cadangan. Secara keseluruhan, saya tidak bawa spare-parts motor, kecuali bekal roti dan air mineral.
Tahap pertama adalah ini bensin premium di SPBU Pertamina Cinere full-tank Rp.40 ribu (8.8 liter). Setting odometer menjadi angka nol. Perjalanan pun dimulai, dan konyolnya saya tidak tahu kalau kawasan Limo-Meruyung (mesjid kubah emas) lagi ada proyek perbaikan jalan yang dibuat menjadi jalan beton. Alhasil, sistim buka tutup bikin jalan jadi macet tidak karuan. Hal yang sama di temukan di jalan raya Sawangan.
Beruntung ada jalan alternatif ke arah ARCO, saya tidak lewat Parung. Seterusnya saya menuju Semplak dan masuk kota Bogor dengan aman dan lancar. Sampai di lampu merah pertigaan Kebon Raya Bogor jam sudah menunjukkan sekitar pukul 10.30.
Saya kena macet di depan ruko sekitar Jl. Surya Kencana Bogor, dan bagusnya di Jl. Tajur Bogor soal perbaikan jalan beton hampir selesai, sehingga sistim buka tutup jalan sudah tidak ada lagi. Aman.. dan saya pun terus meluncur ke arah Ciawi yang padat merayap. Macet gara-gara angkot.
Mulai dari pertigaan Gadog hingga Cibulan, kendaraan yang naik sudah padat merayap. Saya lebih banyak mengambil jalur tengah untuk mendahului semua mobil yang terkena macet. Untung naik motor.. semua kendala kemacetan di kawasan Cibulan, Cipayung, Cisarua dapat dilewati dengan aman.
Lepas dari Cisarua terjadi kemacetan lagi yang datang dari arah lawan, dan buruknya banyak mobil/motor dari arah lawan (turun datang dari Puncak) mengambil jalur yang lagi naik. Apa jadinya? Ya sudah pasti terjadi stuck, semua tak bisa bergerak, sampai mobil dan motor yang datang dari bawah harus melewati jalan tanah terseok-seok. Untung saja TB masih bisa selap-selip dengan terkendali.
Lepas dari kemacetan di Cisarua, dan menuju kawasan kebun teh Puncak, akhirnya si TB bisa digeber dengan kecepatan speed solo-riding. Bagusnya nih motor masih mumpuni melewati kawasan pegunungan. Sekedar meramaikan perjalanan agar tidak ngantuk, muncul sebuah motor dari belakang yang ingin mendekat TB, tapi tampaknya TB malah tambah cepat, baik di tanjakan menuju Puncak Pass, lanjut ke turunan Ciloto, Cimacan, dan hingga sampai Cipanas.
Kawasan Cipanas dilewati dengan mulus dan tidak ada kemacetan. Selanjutnya menuju kawasan Cianjur dengan kondisi jalan turunan panjang, disini giliran si TB ditempel ketat oleh mobil yang ingin mendahului. Tapi TB emang dasar bandel, dan ia tak ingin dilewati. Akhirnya yang bawa motor TB minta berhenti karena mau buang air kecil di SPBU di sebelah kiri jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB.
Saatnya waktu istirahat sekitar 10-15 menit. Kesempatan ini digunakan untuk cuci muka, makan roti, minum air mineral, sekaligus foto sendirian di SPBU Pertamina No. 34.43207.
Kalau cuaca cerah, atau tidak berkabut maka kawasan ini bagus sekali untuk menikmati pemandangan Gunung Gede/Pangrango. Tapi sayang saat itu pemandangan gunung lagi tertutup kabut. Btw, nggak terasa kalau lokasi SPBU ini selalu jadi tempat perhentian si TB kalau lagi ke Bandung (lihat solo riding tahun 2006).
Sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya, saya menelpon Kang Chevi Korwil HTML Jaksel yang sudah tiba di Bandung. Hal ini sekedar melapor diri tentang keberadaan saya bersama si TB disekitar Cianjur, dengan harapan saya akan sampai di lokasi acara ultah HTML sekitar pukul 13.00.
Melewati kawasan tapal kuda yang terkenal dengan tikungan S, agak tersentak heran karena lagi ada proyek jalan yang dibuat untuk memotong, artinya sejarah tikungan S ini bakal lenyap. Saya pribadi menyukai kawasan ini dikala saya menyalip kendaraan. Selain itu, tempat ini juga saya kenal sebagai jalan menuju ke area PT Perkebunan Nusantara VIII yang dikenal dengan pabrik teh yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda, tepatnya sejak tahun 1927 (klik Kebun Gedeh Tanawattee untuk melihat artikel/foto).
Situasi kota Cianjur aman, damai dan tenteram. Tak ada kemacetan yang berarti, dan perjalanan pun dapat diteruskan ke arah Padalarang. Disini, perjalanan melewati rute ini memang enak untuk dipakai high speed. Kuping bindeng, dan suara motor sudah tak terdengar, yang pasti speed motor bisa digeber habis. Ngetes speed motor bisa di jalur ini tapi tetap waspada karena banyak juga motor penduduk setempat yang berseliweran, atau masuk jalur tanpa melihat kebelakang.
Kawasan bukit Padalarang lancar dan tiba-tiba motor TB terpaksa harus menahan laju kecepatan karena didepan ada rombongan motor gede HD. Sebenarnya si TB berusaha untuk menyalip grup ini, tapi terlihat petugas sweepernya berusaha menahan setiap motor yang ingin mendahului rombongan ini. So be patient aja deh..
Di lampu merah pertigaan tol dan jalur Cimahi, rombongan HD tadi ternyata berhenti karena mereka bergabung dengan rekannya yang sudah lebih dulu tiba. Kawasan Cimahi padat dengan motor, namun TB masih bisa bergerak sampai ke ujung jalan Soekarno Hatta. HP berdering beberapa kali, pada kesempatan lampu merah, HP di lirik dulu, dan ternyata Bro Taufik miss call. Terlihat rekaman di HP waktu sudah jam 13.38.
Tak lama kemudian si TB sampai juga di lokasi acara pukul 13.45. Acara sudah dimulai dengan kata sambutan dari Polwan mewakili Satuan Lalu Lintas Polwiltabes Bandung. Selanjutnya baca artikel acara ultah HTML di sini.
Usai mengikuti acara ultah HTML, saya berpamitan dan melangkah ke halaman parkir motor mencari si TB yang lagi istirahat.
Sementara lagi melangkah, saya sempat bertemu dengan teman-teman bikers dari HTML Lampung yang baru saja tiba dilokasi. Tampaknya jumlah rombongan HTML Lampung lumayan banyak.
Maaf, saya tak dapat ngobrol banyak, karena saya harus bergegas meninggalkan Bandung di hari yang sama. Di halaman parkir ini saya buat foto si TB sekenanya.
Tepat pukul 16.30 saya sudah siap mengendarai motor TB untuk kembali bergegas pulang ke Jakarta. Keluar dari halaman parkir, saya bertemu dengan bro Edison HTML Jaksel yang juga sudah siap masuk ke jalan dengan motornya. Sempat terjadi kesepakatan kalau saya mau ikut gabung dengan bro Edison, tapi sayangnya baru beberapa meter jalan, mendadak bro Edison berhenti karena melihat bro Ryan sedang ganti kanvas di pinggir jalan. Singkat kata, akhirnya saya pun batal ikut gabung dengan bro Edison dan perjalanan pulang solo riding.
Pulang melewati kawasan Jl. Soekarno Hatta terasa sudah macet, mendadak rombongan motor HTML dengan plat nomor F (Bogor) sedang berhenti. Saya pun berhenti sejenak untuk mengetahui ada masalah apa. Ternyata ada sebuah motor yang sedang mogok tapi sudah diperbaiki. Tak lama, saya meninggalkan rombongan tersebut.
Pukul 17.30 saya sudah sampai di kota Padalarang dan rasanya saat itu ingin makan dan minum juice. Sebuah warung kecil disinggahi tepatnya setelah saya menyelesaikan kemacetan di Padalarang. Saya duduk istirahat dulu, cuci muka, makan mie bakso, ditambah lagi minuman susu soda segar membuat badan jadi lega dan siap untuk ke Jakarta perjalanan malam hari.
Usai azan maghrib pukul 18.05 saya sudah naik motor lagi, lalu meninggalkan Padalarang. Selanjutnya tancap gas! Kondisi jalan di malam hari membuat saya harus lebih waspada dan extra hati-hati.
Singkat cerita, perjalanan turun di kawasan Puncak Pas, hingga Cisarua terjadi kemacetan yang luar biasa. Terbayang oleh saya bagi mereka yang naik mobil bakal menghabiskan waktu berjam-jam di Puncak. Saya naik motor, tapi tetap berada di jalur tengah dengan extra waspada, karena dari arah lawan banyak juga motor yang memakai jalur tengah.
Suasana malam minggu di Bogor cukup meriah. Ketika jalan di Jl. Pajajaran saya sempat mendahului rombongan Ninja 250R. Tapi, di traffic light Warung Jambu, saya harus berhenti lagi dan disitu saya bisa menghitung jumlah bikers Ninja25oR tadi ada 25 motor dan kebanyakan ber-plat F, saat itu mereka lagi belok kiri ke arah balik kota Bogor. Mungkin bikers bro Taufik biker Ninja 250R ada disitu juga ya? Entahlah..
Setelah itu saya mengambil jalur lewat Jalan Baru Bogor Utara yang ternyata sudah mulus. Rel KA sudah tidak ada lagi karena sudah dibuat underpass. Melewati jalur ini, saya punya sejarah buruk karena pernah mengalami musibah kecelakaan. Jalur ini tembus ke arah Parung.
Di jalur ini saya berpapasan dengan rombongan Honda Tiger yang jumlahnya sangat banyak, sekitar 100-an motor, karena konvoi ini memang terasa cukup panjang. Penglihatan di malam hari dan saya saat itu datang dari arah lawan, maka saya pun tidak bisa meng-indentifikasikan dengan jelas nama klub/komunitas motor ini.
Jalan Raya Bogor-Parung dilewati dengan mulus. Seterusnya ke arah Pondok Cabe, dan setelah itu saya masuk ke arah Cinere melewati jalan yang berada di sebelah SPBU Petronas. Akhirnya saya pun sudah sampai dirumah dengan selamat pukul 21.30 WIB. Demikian pula motor TB tidak rewel, boleh dibilang bandel. Total perjalanan pulang-pergi Jakarta-Bandung 330 Km. Total bahan bakar 10 liter premium @33 km/liter.



















Wah seru juga yah perjalanannya… saya juga mau kebandung naik motor besok…saya bawa pulsar 180 hehe… belum ada persiapan juga sie hehe..
@Yanuar.. salam kenal juga. Mesin motor gw masih awet, sdah tembus 50,000 km tapi belum pernah turun mesin. Tarikan kopling masih bagus. Perawatan sebulan sekali ke bengkel ganti oli, dan gw cuma ikut petunjuk bengkel langganan PMS, kalo ada yg perlu diganti, ya diganti. Sejauh ini yg belum, dan memang perlu diganti segera a.l. shockbreaker, dan ban battlax. Yg lain masih oke2 aja..
:Yb :Yb
Salam kenal om. sy member html yg sekarang lagi ga aktif (sibuk ngurusi kluarga dan kerjaan baru)
Motornya tahunnya sama kaya motorku. yang sampe sekarang belum pernah turun mesin. cuma ganti kampas kopling dan rantai kamprat. sayangnya sekarang kopling housenya oblak dan agak boros (1:25 an, apa gara2 kena macetnya jakarta ya?) dulu sih wkt disurabaya bisa 1:33 bahkan lebih. Km dah hampir 70rb. kmarin sempet mo jual tigi ini tapi diurungkan karena pertimbangan nilai historis (pernah dipake honeymoon bonceng istri Surabaya-Jogja). btw kondisi motor gmn om? apa sudah pernah bongkar mesin. kira2 part apa aja yg perlu di remajain? satu lagi nih adakah rencana kawasaki ngluarin ninja 250 versi naked?
solo touring lagi..ajak2 donk pak tua “berumur lanjut”…hehehe…sekalian ikut ngeliput..TB pasti makin simatupang…
mantep om… tiger nya Bang Steph emang uhuyyyyyyyy….
Bener-bener tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi…..
@Iksa.. saya beryukur yg di-Atas masih melindungi… cuaca juga bagus, tdk ada hujan
Wah nekat juga nih gak pake persiapan buat si TB … baguslah semuanya baik-baik saja ..