Bersama Audi A6 2.8 FSI Mampir Ke Pabrik Kopi Aroma Bandung

29 November 2012. Anda suka minum kopi? Cobalah minum kopi Aroma Bandung yang sudah terkenal dan menjadi kopi terbaik sejak tahun 1930-an. Ketika MediaSL ikut acara “Media Drive Experience AUDI A6 2.8 FSI S Line” milik PT Garuda Mataram Motor pada bulan Oktober lalu, diajak mampir berwisata ke pabrik Kopi Aroma di Jl. Banceuy No. 51 Bandung.

Wouw.. gedung tua bangunan Belanda bergaya ArtDeco tersebut ternyata memiliki sejarah dan wisata tentang kopi. Pada pintu depan terlihat antrian orang-orang hingga ke trotoar jalan yang ingin membeli kopi Aroma. Ketika itu MediaSL bersama 2 orang rekan wartawan otomotif diizinkan masuk kedalam dan berjumpa dengan pemiliknya bernama  Widyapratama, yang disapa dengan Pak Widya (62 tahun).

Menurut Pak Widya, pabrik kopi Aroma ini merupakan generasi kedua setelah ayahnya Tan Houw Sian meninggal dunia tahun 2005 (berusia 87 tahun). Pak Widya meneruskan warisan ayahnya dan melanjutkan pabrik kopi dimulai dari penyimpanan atau gudang kopi, proses produksi, dan juga penjualan retailnya di Jalan Banceuy 51, Bandung.

Widyapratama (62 tahun) pemilik Kopi Aroma Generasi Kedua di Jl. Banceuy No. 51 Bandung. Menyimpan biji kopi di gudang hingga 8 tahun demi kenikmatan Kopi Aroma.

Semua tahapan proses produksi terlihat sama dengan industri kopi pada umumnya, hanya saja Kopi Aroma ini adalah usaha keluarga, antara tradisional dan klasik. Tampaknya sejak dulu nama Kopi Aroma memang sudah terkenal, bahkan sejak zaman Belanda. Maka tak heran jika bungkusan Kopi Aroma tertulis dalam dua bahasa, yang pertama ejaan lama Bahasa  Indonesia dan kedua Bahasa Belanda.

Tertulis judul besar Koffie Fabriek AROMA Bandoeng, untuk Bahasa Belanda terbaca “Wilt U heerlijke Koffie drinken? Aroma en smaak blijven goed, indien U de Foffie van de zak direct in een gesloten stopfles of blik over plaatst. Niet in de zak laten staan!

Yang menarik dari Kopi Aroma ini adalah soal masa waktu penyimpanan. Setelah biji kopi diterima dari berbagai daerah, kemudian karung goni yang berisi biji-bijian kopi perlu disimpan dalam waktu 5 (lima) hingga 8 (delapan) tahun. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat keasaman (acidity), dan ini adalah salah satu keunggulan, maupun ukuran dari kenikmatan kopi. Selain bertambah nikmat, kopi Aroma ini juga dipercaya lebih sehat (tidak mengganggu lambung).

Antrian pembeli Kopi Aroma di Jl. Banceuy No. 51 Bandung. Datang lebih pagi, sabar, dan beli secukupnya (memborong besar-besaran tidak dilayani).

Bicara soal penyimpanan kopi, Pak Widya menjelaskan untuk jenis Robusta butuh waktu penyimpanan selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabica wajib harus disimpan dulu selama 8 tahun sebelum dimasukkan dalam mesin roaster. Kopi yang berusia lebih muda akan terlihat putih ke kuning-kuningan. Sedangankan yang sudah lama (tua) akan terlihat lebih gelap (kecoklat-coklatan). Kopi robusta bentuknya agak pipih, sementara arabika agak bulat.

Menurut Pak Widya, kopi robusta adalah kopi yang paling kuat, baik dari segi aroma, rasa, hingga memberikan efek sulit tidur dan bisa membuat debar jantung berlebihan. Sementara itu, kopi Arabica memberikan rasa kopi yang ringan, aroma yang lumayan, tapi tidak terlalu mengganggu irama tidur dan ini cocok buat penderita hipertensi.

Melihat sekeling ruang proses produksi Kopi Aroma, terlihat benda-benda kuo seperti 3 buah sepeda onthel diparkir di diding atas, “Itu harta warisan dari ayah saya Tan Houw Sian yang meninggal di usia 87 tahun. Saya ingin anak-anak saya selalu ingat bahwa pabrik ini dirintis dengan sepeda yang tua di zamannya, dengan keringat dari kakeknya,” papar Pak Widya yang memiliki 3 orang anak perempuan.

Daftar Harga Kopi Aroma per 1 September 2011 campuran Arabika + Robusta (lihat perbandingan campuran)

Menurut Pak Widya ketika bicara soal masa depan pabriknya, kemungkinan besar anak perempuan yang pertama yang saat ini lagi bekerja di kantoran bisa diharapkan akan meneruskan usaha pabrik Kopi Aroma. Sementara itu anak perempuan kedua sudah sering ikut membantu di bagian penjualan dan kasir bersama ibunya (istri Pak Widya).

Mesin panggang (bean roaster) yang digunakan pabrik Aroma terlihat sudah kuno tapi masih berfungsi dengan baik. Salah satunya adalah mesin pengolah kopi merek “Probat” buatan Jerman tahun 1930 dan 1936 (ada dua unit). Pak Widya terlihat sedang membuka dan menutup tungku untuk panggangan kopi di atas mesin tua tahun 1936, termasuk mengatur perapian dengan potongan-potongan kayu karet.

Pak Widya juga menjelaskan sejarah ayahnya di tahun 1920-an, dimana almarhum ayah Tan Houw Sian dulunya pernah menjadi pekerja di pabrik kopi milik Belanda. Upah dari hasil kerja seharian itu terus ditabung sehingga sang ayah bisa  merintis pabrik kopi pada tahun 1930 dan membeli mesin pengolah kopi.

Bangunan Koffie Fabriek AROMA Bandoeng, Jalan Banceuy 51 Bandung

Kios Kopi Aroma mulai buka pukul 6.00 WIB dan tutup sekitar pukul 13.00 WIB. Kemasan yang ditawarkan antara 100 gram, 250 gram, 500 gram, 750 gram hingga 1 kg. Jangan memborong dalam jumlah besar, bakal tidak dilayani, soalnya sang penjual lebih senang produknya bisa terjual secara merata dan dapat dinikmati oleh banyak orang.

Akhir kata terima kasih kepada PT Garuda Mataram Motor yang sudah memberikan kesempatan kepada MediaSL untuk jalan-jalan ke Bandung bersama Audi A6 2.8 FSI S Line. Informasi lengkap tentang artikel ulasan mobil premium Audi, silahkan simak halaman ini.

VIDEO #1

VIDEO #2

ALBUM PHOTO

Leave a Reply