Piaggio Liberty Marrone Onix

24 Oktober 2012. Piaggio Liberty kini hadir dengan pilihan warna baru Marrone Onix (coklat tembaga) untuk melengkapi dua varian warna yang telah diperkenalkan sebelumnya yaitu Midnight Blue (biru tua) and Bianco Perla (putih). Piaggio Liberty merupakan pendatang baru di keluarga Liberty yang diperkenalkan sejak Pekan Raya Jakarta 2012.

Piaggio Liberty menawarkan desain mewah khas Italia dan gaya yang menonjol dibanding kompetitornya. Dilengkapi dengan kapasitas tangki bahan bakar terbesar di kelasnya, Piaggio Liberty hadir dengan harga yang kompetitif, sehingga merupakan solusi berkendara yang paling dapat diandalkan di situasi macet. Harga Piaggio Liberty adalah Rp 16.000.000 OTR Jakarta.

Tagged with 

One thought on “Piaggio Liberty Marrone Onix

  1. Surat Pembaca I
    Menyesal Berat Beli Piaggio
    Siapa tidak tahu merk Vespa atau Piaggio? Hampir dipastikan semua orang Indonesia tahu karena motor pabrikan Italia itu sudah begitu melegenda dan menjadi salah satu the most wanted untuk dikoleksi. Karena itu tidak heran, Vespa atau Piaggo di era tujuh puluhan masih banyak melenggang kangkung, bukan hanya karena desain klasiknya yang lekang oleh jaman, tapi juga mesinnya yang terkenal bandel. Motor yang terlihat ‘rongsokan’ pun masih kuat diinjak, termasuk naik turun pegunungan.
    Brand Vespa dan Piaggio yang kuat dan positioning sebagai klasik nan tangguh itulah membuat saya tanpa pikir panjang memutuskan membeli Piaggio 125 CC dengan harga sekitar Rp16 juta di dealer Vespa-Piaggio di Jl Kebayoran Lama secara cash. Saya tidak mempedulikan meski tidak mendapatkan jaket, walaupun sebenarnya masuk paket dan dijanjikan dealer.
    Saat itu saya hanya membayangkan membeli Piaggio bukan hanya untuk aktivitas kerja sehari-hari, tapi juga agar bisa bergaya retro. Saya juga membayangkan akan bisa menikmati motor ini hingga masa tua dan kemudian kelak mewariskannya kepada anak-anak.
    Tetapi ternyata itu hanya imaginasi saja. Begitu motor dikirim, silih berganti masih langsung terjadi. Awalnya, motor sering tiba-tiba mati, seperti saat di tengah kemacetan atau waktu mengisi bensin. Setelah dicek, ditemukan masalah pada saklar. Dugaan awal, pemasangan saklar kurang rapat. Tapi ternyata masalah tersebut masih terus terjadi. Bayangkan ketika di tengah jalan dan motor mati, saya –termasuk istri saya- harus repot-repot membuka kap depan untuk mengotak-atik saklar.
    Sekitar satu bulan kemudian baru terungkap daya saklar terlalu kecil dan tidak sesuai dengan spek. Hal ini diketahui oleh bengkel resmi setelah diketahui saklar. Terpaksa saya beli saklar baru, dengan menggunakan uang sendiri meski motor masih bergaransi. Masalahnya, bagaimana pabrikan bisa teledor memasang suatu perangkat yang tidak sesuai spek-nya? Saat itu saya berfikir, mungkin ini karena kelalaian teknisi.
    Tak lama kemudian, masalah datang lagi. Motor jalannya goyang. Saya berfikir pasti laker-nya. Setelah dibawa ke bengkel umum, diketahui ternyata as peleg depan sudah aus. Bengkel tidak berani membawa ke bubut karena bahannya dari alumunium sangat sulit dibubut. Saya pun kemudian komplain ke dealer resmi dan diganti karena memang masih bergaransi. Saat itu pihak bengkel mengakui bahan yang lama jelek, dan peleg baru lebih baik.
    Tetapi, belum menikmati kenyamanan, satu masalah lagi datang. En tah kenapa, roda depan menggelembung. Posisinya tepat di tengah, memanjang hingga 20 centi meter. Mulai saat itu lah saya berfikir tentang produk seperti apakah yang dijual. Apa yang saya alami adalah fakta bahwa brand yang begitu kuat ternyata mengelabuhi. Saya merasa positioning Piaggio yang menancap kuat di alam bawah sadar saya hanyalah ilusi. Entah karena dibuat di Vietnam –saya juga berfikir onderdil made in China- jauh dari ekpektasi saya.
    Karena itulah satu memutuskan membeli ban tidak di dealer, meskikpun harus montang-manting karena spek sangat langkah. Saya baru menemukan di pusat onderdil di Kebon Jeruk.Walaupun harganya tinggi, sekitar Rp300 ribu, saya membeli karena lebih murah dibanding di dealer resmi.
    Hingga satu tahun beberapa bulan mempunyai Piaggio, saya tidak pernah merasakan nikmatinya berkendara. Dan yang membuat hati semakin terluka, kini ganti peleg roda belakang yang goyang. Ikhtiar saya beberapa kali membawa ke bubut ternyata tidak berhasil, dan peleg goyang. Bahkan, mur knalpot patah di depan hingga saya harus kembali ke bengkel resmi karena untuk membongkar harus mengganti top packing.
    Terus terang, saya menyesal berat beli Piaggio. Sama sekali tidak ada kekuatan dan kenyamanan motor berkelas Eropa ini. Sama sekali tidak ada bukti Piaggio adalah motor battle proven, seperti para sesepuhnya. Sama sekali tidak muncul customer satisfaciton pada kualitasnya. (*)

    Surat Pembaca II
    Jebakan After Sales
    Saya baru menyadari arti pentingya after sales. Orang memilih membeli motor seperti Honda atau Yamaha, karena bengkel ada dimana-mana, bengkel kecil pun sudah biasa, dan onderdil pun ada dimana. Satu lagi harga murah, dan ada KW-nya lagi.
    Common rasionality itu sementara saya singkirkan ketika memutuskan membeli Piaggio. Saya mencoba membeli motor yang lebih menantang: tidak sekedar untuk aktivitas sehari-hari, tapi juga untuk aksi. Apalagi sekelas Piaggio, dengan brand danpositioning yang tidak lagi meragukan. Saya juga percaya dengan kelas yang dibidik serta banyak komunitas penghobi membuat after sales-nya sudah otomatis menjadi perhatian.
    Tapi ternyata, persepsi saya salah kaprah. Selama berurusan dengan persoalan after sales, saya sama sekali tidak pernah menemukan responsivitas, baik dari sisi customer relationship management maupun supplay chain management. Semaunya lelet, menjengkelkan, dan merugikan.
    Dan selama dua tahun lebih saya berurusan dengan silih- ganti masalah onderdil berkualitas rendah yang dibenamkan pada Piaggio milik saya, tidak ada upaya perbaikan sama sekali.Piaggio tidak memikirkan nasib pelanggan. Sebaliknya, hanya berfikir dagangan laku, dan bahkan berfikir bagaimana bisa bisa terus-menerus mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pelanggan.
    Apa yang saya sampaikan bukan provokasi, tapi dari fakta dan pengalaman yang saya alami. Saklar saya rusak ternyata tidak ada gantinya, terpaksa saya harus beli sendiri; pergantian peleg berkualita rendah harus menunggu sampai 15 hari dengan alasan diimpor dari Vietnam.
    Dan kasus terbaru, untuk menggantikan peleg belakang yang juga hancur dan packing top -yang harus diganti karena mur kenalpot putus di dalam- saya harus menunggu entah sampai kapan karena bengkel resmi tidak bisa memberi kepastian. Yang kian menjengkelkan, walaupun motor sudah sembilan hari di bengkel, sama sekali tidak ada konfirmasi dari pihak bengkel.
    Entah apa susahnya hanya untuk sekedar menelpon dan memberi informasi bahwa motor belum bisa diperbaiki karena onderdil belum ada.Bisa dibayangkan, berapa kerugian material karena motor tidak digunakan untuk aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama.
    Dengan munculnya masalah karena kualitas onderdil yang sangat asal-asalan, saya bahkan merasa adanya jebakan after sales. Bagaimana tidak, untuk mengganti ban dengan spek ukuran yang sangat langka, kita mau tidak mau harus membeli di bengkel resmi dengan harga mahal (informasinya Rp400 ribu). Jika pelg motor rusak, seperti saya alami, kita sudah pasti tidak ada pilihan selain membeli dengan harga Rp900 ribu. Bandingkan dengan layanan dan harga onderil pabrikan besar pada kelas motor sama, seperti Honda Vario.
    Mungkin wajar kalau onderdil yang kita beli benar-benar berkualitas Eropa, dimana Piaggio berasal. Tapi faktanya, onderdil yang dibenamkan di Piaggio low class quality. Bisa dipastikan konsumen akan berkali-kali karena harus berurusan dengan law class service dan harus kembali terjerembab dalam jebakan after sales.
    Dengan pengalaman ini, kiranya masyarakat untuk berfikir seribu kali untuk membeli motor Piaggio. Boro-boro untuk tujuan koleksi, motor ini sama sekali tidak bisa dinikmati. Pengalaman ini saya sampaikan agar masyarakat tidak terjebak menjadi keledai yang jatuh di kubangan persoalan yang sama.(*)

    Surat Pembaca III
    Pantas kah Saya Membayar Mahal?
    Jumat hari ini (4 April) sudah lebih dari 3 minggu Piaggio saya berada di bengkel. Tetap saja tidak sekalipun ada informasi dari pihak dealer tentang nasib saya. Saya kembali menengok, hasilnya seperti saya duga, tidak ada perkembangan sama sekali. Pihak bengkel hanya memberi kabar peleg yang rusak tidak bisa diganti karena sudah dibubut. Ujungnya, pasti saya harus mengeluarkan duit sekitar 900 ribu untuk membeli peleg.
    Pertanyaannya, pantas kah saya membayar mahal untuk after sales service yang sedemikian amburadul? Apakah Piaggio tidak berfikir kerugian konsumen ketika motor begitu lama nangkring tanpa kejelasan? Apakah konsumen tidak bnutuh riwa-riwi ngantar anak sekolah, untuk kerja dll? Juga untuk bolak-balik ngencek ke bengkel hanya sekadar menanyakan nasib motornya?
    Pihak Piaggio tidak mau mengganti peleg dengan alasan sudah dibubut? Pertanyaannya, apakah kalau saya membawa motor ke bengkel, apakah bisa dilayani dalam satu dua hari? Kasus sebelumnya hampir tiga minggu? Sekarang kalau pertanyaannya di balik, mengapa piaggio memasang peleg dengan kualitas sangat rendah, dan kemudian menimbulkan konsumennya celaka, apakah piaggio bertanggung jawab?
    Kedatangan saya ke dealer Vespa di Kebayoran Lama kini kian meyakinkan saya bahwa konsumen hanya boleh tersenyum sekali saat baru beli motor.(!)

Leave a Reply