Piaggio Indonesia Rayakan Ulang Tahun Vespa ke-66 & Luncurkan VespaS 150ie

27 April 2012. Wuih.. lagil-lagi PT Piaggio Indonesia sebagai prinsipal sepeda motor merek Vespa yang baru berdiri bulan Juni 2011 yang lalu (artikel ini) membuat kejutan dengan segudang acara menarik. Salah satunya adalah mengadakan “Media Gathering 66 Tahun Vespa dan Launching VespaS 150 ie” yang berlangsung di Ocha & Bella Cafe Restaurant, Jl. Wahid Hasyim No. 70, Menteng, Jakarta Pusat hari Kamis, 26 April 2012. SL.com turut hadir memenenuhi undangan PT Piaggio Indonesia tersebut sekaligus mengikuti test-ride.

Ya, kali ini Vespa merayakan ulang tahunnya yang ke-66 sejak pertama kali diperkenalkan tahun 1946. Sebagai sebuah simbol global akan kreativitas Italia sekaligus contoh unik dari “keabadian” dalam sejarah desain industri.

Vespa senantiasa memperbaharui diri dengan fitur-fitur modern guna meningkatkan identitas ikoniknya serta memenuhi kebutuhan para pecintanya. Vespa juga senantiasa diasosiasikan dengan momen tak terlupakan yang mampu membangkitkan pengalaman yang hebat, indah dan unik.

Vespa telah melaju di jalanan berbagai kota di Indonesia sejak tahun 1960-an dan menjadi simbol ikonik bagi masyarakat. Dedikasi para pecinta ditunjukkan dengan terbentuknya begitu banyak klub dan komunitas Vespa yang memungkinkan mereka untuk bersama-sama menikmati pengalaman dari merek skuter paling terkenal di dunia. Komunitas Vespa di Indonesia adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Italia, dengan jumlah pecinta Vespa mencapai lebih dari 40,000 orang.

“Vespa adalah bagian dari kehidupan semua orang dan menjadi simbol identitas sosial dan budaya. Pada ulang tahun Vespa yang ke-66, dengan senang hati kami mengundang semua orang untuk bersama-sama merayakannya sekaligus menikmati pengalaman Vespa yang tak terlupakan,” ujar Sergio Mosca, Managing Director PT Piaggio Indonesia.

Pengalaman-pengalaman tak terlupakan tersebut dirayakan dengan berbagai cara di seluruh dunia dan kemudian menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Salah satunya adalah melalui film. Hanya berselang empat tahun setelah peluncurannya, Vespa mengawali debutnya di bidang perfilman pada tahun 1950, dalam film Italia berjudul “Sunday in August”.

Vespa menjadi simbol status internasional di film “Roman Holiday” tahun 1953 melalui adegan yang menampilkan Audrey Hepburn dan Gregory Peck mengendarai Vespa 125 di tengah lalu lintas kota Roma. Sejak saat itu, banyak aktor dan aktris yang menggunakan Vespa dalam adegan film, seperti Dear Diary (1993), Alfie (2004) dan The Interpreter (2005).

Selama bertahun-tahun, sejumlah nama besar bintang film internasional pernah diambil gambarnya sambil mengendarai skuter paling terkenal di dunia ini. Tidak hanya duo Hepburn-Peck yang memulai sensasi Vespa di film “Roman Holiday”, namun juga para aktor dan aktris dari film-film seperti “Quadrophenia”, “Absolute Beginners”, “American Graffiti”, “The Talented Mr. Ripley”, “102 Dalmatians” dan film blockbuster “Transformers”.

Vespa telah digunakan oleh banyak aktor dan aktris film, seperti Milla Jovovich, John Wayne, Henry Fonda, Gary Cooper, Sting, Antonio Banderas, Matt Damon, Gérard Depardieu, Jude Law, Eddie Murphy, Owen Wilson, Nicole Kidman dan masih banyak lagi.

Vespa Hadirkan Hadiah Spesial: Vespa S 150ie

Merayakan Ulang Tahun ke-66 Vespa, PT Piaggio Indonesia dalam acara tersebut memperkenalkan  motor skutikterbarunya, yaitu VespaS 150ie yang memiliki model Sporty, Stylish dan Sophisticated.

VespaS 150ie ini lebih menonjolkan kepada vitalitas dan energi dari sebuah merek Vespa yang saat ini telah menjadi sebuah ikon desain yang penuh gaya, pengalaman abadi yang senantiasa menjadi topik perbincangan hingga kini.

Vespa S 150ie menghidupkan daya tarik sporty “Vespino” dan menjadi salah satu model ikonik Vespa yang menonjolkan fitur-fitur unik, salah satunya adalah lampu depan berbentuk kotak yang merupakan ciri khas model ini.

Turut hadir di acara perayaan ulang tahun Vespa ke-66 serta perkenalan Vespa S 150ie, adalah Winky Wiryawan dan Kenes Andari, pasangan selebritis yang juga pecinta Vespa. Pada kesempatan tersebut, mereka berdua berbagi cerita, pengalaman dan momen tak terlupakan bersama Vespa.

“Kami menjadi pecinta Vespa sejak kami berkencan beberapa tahun lalu. Kami berdua selalu bersama Vespa dalam menikmati momen-momen yang paling tak terlupakan. Vespa selalu update dan tidak pernah ketinggalan zaman, jadi senantiasa unik dan modis. Vespa S 150ie yang diperkenalkan dalam rangka perayaan ulang tahun Vespa ini merupakan solusi mobilitas yang paling modis bagi saya yang memiliki banyak aktivitas,” ujar Winky Wiryawan, disc jockey yang juga aktor.

“Dulu, yang suka Vespa itu Winky. Namun, karena sering dijemput untuk kencan menggunakan Vespa, saya juga menjadi penggemar dan jatuh cinta pada Vespa. Sekarang saya memiliki Vespa saya sendiri. Dilengkapi dengan fitur-fitur modern, Vespa menjadi kendaraan roda dua yang mudah digunakan dan lebih nyaman, khususnya untuk perempuan seperti saya,” tambah Kenes Andari, mantan model dan publisis.

Vespa S 150ie dilengkapi mesin dengan sistem injeksi bahan bakar elektronik. Penggunaan sistem injeksi tersebut mampu mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi, yang membuat Vespa semakin mengukuhkan citranya sebagai skuter urban yang orisinil dan ramah lingkungan.

Vespa S 150ie dijual dengan harga Rp. 27.5 juta ini sudah dilengkapi dengan transmisi otomatis dan mesin yang telah memenuhi standar Euro 3 ditambah dengan sistem immobilizer anti pencurian. Sesuai slogannya: Sporty, Stylish and Sophisticated, Vespa S 150ie menghadirkan semangat muda dan sporty. Vespa S 150ie hadir dalam empat pilihan warna; Arancio Taormina (oranye), Rosso Dragon (merah), Monte Bianco (putih) dan Nero Vulcano (hitam).

“Vespa S 150ie menghidupkan kembali nilai-nilai dan gaya unik yang mewakili nuansa generasi modern dengan menampilkan garis-garis utama yang tegas, desain minimalis dan bentuk yang sederhana namun elegan, serta tetap setia pada tradisi Vespa melalui bodi yang terbuat dari baja. Inilah mengapa Vespa menjadi simbol kreativitas Italia yang dengan cerdas menggabungkan referensi sejarah dan interpretasi modernitas dalam semangat yang lebih muda dan sporty,” tutup Mosca.

ALBUM PHOTO

2 thoughts on “Piaggio Indonesia Rayakan Ulang Tahun Vespa ke-66 & Luncurkan VespaS 150ie

  1. Udah lama ya vespa ga eksis, kalo dulu masih banyak liat vespa di jalan raya…

  2. Surat Pembaca I
    Menyesal Berat Beli Piaggio
    Siapa tidak tahu merk Vespa atau Piaggio? Hampir dipastikan semua orang Indonesia tahu karena motor pabrikan Italia itu sudah begitu melegenda dan menjadi salah satu the most wanted untuk dikoleksi. Karena itu tidak heran, Vespa atau Piaggo di era tujuh puluhan masih banyak melenggang kangkung, bukan hanya karena desain klasiknya yang lekang oleh jaman, tapi juga mesinnya yang terkenal bandel. Motor yang terlihat ‘rongsokan’ pun masih kuat diinjak, termasuk naik turun pegunungan.
    Brand Vespa dan Piaggio yang kuat dan positioning sebagai klasik nan tangguh itulah membuat saya tanpa pikir panjang memutuskan membeli Piaggio 125 CC dengan harga sekitar Rp16 juta di dealer Vespa-Piaggio di Jl Kebayoran Lama secara cash. Saya tidak mempedulikan meski tidak mendapatkan jaket, walaupun sebenarnya masuk paket dan dijanjikan dealer.
    Saat itu saya hanya membayangkan membeli Piaggio bukan hanya untuk aktivitas kerja sehari-hari, tapi juga agar bisa bergaya retro. Saya juga membayangkan akan bisa menikmati motor ini hingga masa tua dan kemudian kelak mewariskannya kepada anak-anak.
    Tetapi ternyata itu hanya imaginasi saja. Begitu motor dikirim, silih berganti masih langsung terjadi. Awalnya, motor sering tiba-tiba mati, seperti saat di tengah kemacetan atau waktu mengisi bensin. Setelah dicek, ditemukan masalah pada saklar. Dugaan awal, pemasangan saklar kurang rapat. Tapi ternyata masalah tersebut masih terus terjadi. Bayangkan ketika di tengah jalan dan motor mati, saya –termasuk istri saya- harus repot-repot membuka kap depan untuk mengotak-atik saklar.
    Sekitar satu bulan kemudian baru terungkap daya saklar terlalu kecil dan tidak sesuai dengan spek. Hal ini diketahui oleh bengkel resmi setelah diketahui saklar. Terpaksa saya beli saklar baru, dengan menggunakan uang sendiri meski motor masih bergaransi. Masalahnya, bagaimana pabrikan bisa teledor memasang suatu perangkat yang tidak sesuai spek-nya? Saat itu saya berfikir, mungkin ini karena kelalaian teknisi.
    Tak lama kemudian, masalah datang lagi. Motor jalannya goyang. Saya berfikir pasti laker-nya. Setelah dibawa ke bengkel umum, diketahui ternyata as peleg depan sudah aus. Bengkel tidak berani membawa ke bubut karena bahannya dari alumunium sangat sulit dibubut. Saya pun kemudian komplain ke dealer resmi dan diganti karena memang masih bergaransi. Saat itu pihak bengkel mengakui bahan yang lama jelek, dan peleg baru lebih baik.
    Tetapi, belum menikmati kenyamanan, satu masalah lagi datang. En tah kenapa, roda depan menggelembung. Posisinya tepat di tengah, memanjang hingga 20 centi meter. Mulai saat itu lah saya berfikir tentang produk seperti apakah yang dijual. Apa yang saya alami adalah fakta bahwa brand yang begitu kuat ternyata mengelabuhi. Saya merasa positioning Piaggio yang menancap kuat di alam bawah sadar saya hanyalah ilusi. Entah karena dibuat di Vietnam –saya juga berfikir onderdil made in China- jauh dari ekpektasi saya.
    Karena itulah satu memutuskan membeli ban tidak di dealer, meskikpun harus montang-manting karena spek sangat langkah. Saya baru menemukan di pusat onderdil di Kebon Jeruk.Walaupun harganya tinggi, sekitar Rp300 ribu, saya membeli karena lebih murah dibanding di dealer resmi.
    Hingga satu tahun beberapa bulan mempunyai Piaggio, saya tidak pernah merasakan nikmatinya berkendara. Dan yang membuat hati semakin terluka, kini ganti peleg roda belakang yang goyang. Ikhtiar saya beberapa kali membawa ke bubut ternyata tidak berhasil, dan peleg goyang. Bahkan, mur knalpot patah di depan hingga saya harus kembali ke bengkel resmi karena untuk membongkar harus mengganti top packing.
    Terus terang, saya menyesal berat beli Piaggio. Sama sekali tidak ada kekuatan dan kenyamanan motor berkelas Eropa ini. Sama sekali tidak ada bukti Piaggio adalah motor battle proven, seperti para sesepuhnya. Sama sekali tidak muncul customer satisfaciton pada kualitasnya. (*)

    Surat Pembaca II
    Jebakan After Sales
    Saya baru menyadari arti pentingya after sales. Orang memilih membeli motor seperti Honda atau Yamaha, karena bengkel ada dimana-mana, bengkel kecil pun sudah biasa, dan onderdil pun ada dimana. Satu lagi harga murah, dan ada KW-nya lagi.
    Common rasionality itu sementara saya singkirkan ketika memutuskan membeli Piaggio. Saya mencoba membeli motor yang lebih menantang: tidak sekedar untuk aktivitas sehari-hari, tapi juga untuk aksi. Apalagi sekelas Piaggio, dengan brand danpositioning yang tidak lagi meragukan. Saya juga percaya dengan kelas yang dibidik serta banyak komunitas penghobi membuat after sales-nya sudah otomatis menjadi perhatian.
    Tapi ternyata, persepsi saya salah kaprah. Selama berurusan dengan persoalan after sales, saya sama sekali tidak pernah menemukan responsivitas, baik dari sisi customer relationship management maupun supplay chain management. Semaunya lelet, menjengkelkan, dan merugikan.
    Dan selama dua tahun lebih saya berurusan dengan silih- ganti masalah onderdil berkualitas rendah yang dibenamkan pada Piaggio milik saya, tidak ada upaya perbaikan sama sekali.Piaggio tidak memikirkan nasib pelanggan. Sebaliknya, hanya berfikir dagangan laku, dan bahkan berfikir bagaimana bisa bisa terus-menerus mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pelanggan.
    Apa yang saya sampaikan bukan provokasi, tapi dari fakta dan pengalaman yang saya alami. Saklar saya rusak ternyata tidak ada gantinya, terpaksa saya harus beli sendiri; pergantian peleg berkualita rendah harus menunggu sampai 15 hari dengan alasan diimpor dari Vietnam.
    Dan kasus terbaru, untuk menggantikan peleg belakang yang juga hancur dan packing top -yang harus diganti karena mur kenalpot putus di dalam- saya harus menunggu entah sampai kapan karena bengkel resmi tidak bisa memberi kepastian. Yang kian menjengkelkan, walaupun motor sudah sembilan hari di bengkel, sama sekali tidak ada konfirmasi dari pihak bengkel.
    Entah apa susahnya hanya untuk sekedar menelpon dan memberi informasi bahwa motor belum bisa diperbaiki karena onderdil belum ada.Bisa dibayangkan, berapa kerugian material karena motor tidak digunakan untuk aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama.
    Dengan munculnya masalah karena kualitas onderdil yang sangat asal-asalan, saya bahkan merasa adanya jebakan after sales. Bagaimana tidak, untuk mengganti ban dengan spek ukuran yang sangat langka, kita mau tidak mau harus membeli di bengkel resmi dengan harga mahal (informasinya Rp400 ribu). Jika pelg motor rusak, seperti saya alami, kita sudah pasti tidak ada pilihan selain membeli dengan harga Rp900 ribu. Bandingkan dengan layanan dan harga onderil pabrikan besar pada kelas motor sama, seperti Honda Vario.
    Mungkin wajar kalau onderdil yang kita beli benar-benar berkualitas Eropa, dimana Piaggio berasal. Tapi faktanya, onderdil yang dibenamkan di Piaggio low class quality. Bisa dipastikan konsumen akan berkali-kali karena harus berurusan dengan law class service dan harus kembali terjerembab dalam jebakan after sales.
    Dengan pengalaman ini, kiranya masyarakat untuk berfikir seribu kali untuk membeli motor Piaggio. Boro-boro untuk tujuan koleksi, motor ini sama sekali tidak bisa dinikmati. Pengalaman ini saya sampaikan agar masyarakat tidak terjebak menjadi keledai yang jatuh di kubangan persoalan yang sama.(*)

    Surat Pembaca III
    Pantas kah Saya Membayar Mahal?
    Jumat hari ini (4 April) sudah lebih dari 3 minggu Piaggio saya berada di bengkel. Tetap saja tidak sekalipun ada informasi dari pihak dealer tentang nasib saya. Saya kembali menengok, hasilnya seperti saya duga, tidak ada perkembangan sama sekali. Pihak bengkel hanya memberi kabar peleg yang rusak tidak bisa diganti karena sudah dibubut. Ujungnya, pasti saya harus mengeluarkan duit sekitar 900 ribu untuk membeli peleg.
    Pertanyaannya, pantas kah saya membayar mahal untuk after sales service yang sedemikian amburadul? Apakah Piaggio tidak berfikir kerugian konsumen ketika motor begitu lama nangkring tanpa kejelasan? Apakah konsumen tidak bnutuh riwa-riwi ngantar anak sekolah, untuk kerja dll? Juga untuk bolak-balik ngencek ke bengkel hanya sekadar menanyakan nasib motornya?
    Pihak Piaggio tidak mau mengganti peleg dengan alasan sudah dibubut? Pertanyaannya, apakah kalau saya membawa motor ke bengkel, apakah bisa dilayani dalam satu dua hari? Kasus sebelumnya hampir tiga minggu? Sekarang kalau pertanyaannya di balik, mengapa piaggio memasang peleg dengan kualitas sangat rendah, dan kemudian menimbulkan konsumennya celaka, apakah piaggio bertanggung jawab?
    Kedatangan saya ke dealer Vespa di Kebayoran Lama kini kian meyakinkan saya bahwa konsumen hanya boleh tersenyum sekali saat baru beli motor.(!)

Leave a Reply