Kampanye Road Safety: I Wanna Get Home Safely 2011

11 Februari 2011. “Melawan si ‘Pembunuh’ Ketiga Dengan Kesadaran.” Sebuah fakta didapat dari Dinas Perhubungan, menyatakan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian nomor tiga di Indonesia, setelah serangan jantung dan stroke. Pernyataan tersebut diperkuat dengan fakta bahwa kecelakaan di Indonesia menempati posisi ketiga tertinggi di ASEAN.

Bahkan bukannya tidak mungkin, tingkat kecelakaan di Indonesia bisa menjadi peringkat tiga besar di dunia. World Health Organization (WHO) menyatakan pada tahun 2020, kecelakaan akan menjadi “pembunuh”nomor tiga di dunia. Padahal jika dibandingkan pada tahun 1990, kecelakaan lalu lintas masih berada pada urutan ke sembilan.

Peringkat tersebut bukan merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Meningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia memang dapat menjadi salah satu indikasi kemapanan masyarakatnya. Namun jika tidak diiringi dengan perilaku berkendara yang baik, hal tersebut dapat menjadi bumerang bagi kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Kembali kepada fakta, di tahun 2009, 55.6% dari kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor, 25% dari korban yang meninggal dalam kecelakaan adalah pengendara sepeda motor (Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan), dan sebesar 88% dari korban kecelakaan tersebut menderita cedera kepala.

Berbagai alasan penyebab kecelakaan sudah dilontarkan. Mulai dari kondisi jalan raya yang tak lagi mampu menampung jumlah kendaraan sehingga menyebabkan kemacetan, kurangnya sarana dan pra sarana rambu-rambu lalu lintas, kurangnya armada kepolisian, hingga kondisi kendaraan yang kurang baik, dapat menyebabkan kecelakaan. Semua alasan tersebut memang benar adanya.

Namun apakah Anda mengetahui, bahwa semua faktor tersebut hanya penyumbang 10% dari penyebab kecelakaan?

Karena 90% penyebab kecelakaan ternyata adalah faktor manusia.

Faktor manusia yang dimaksud di sini amat beragam. Mulai dari pengguna jalan yang memiliki tingkat stress yang tinggi, tidak sabar, terburu-buru, tidak mau mengalah, ceroboh, tidak patuh peraturan lalu lintas, juga karena mengabaikan perawatan dan kondisi kendaraan yang digunakan.

“Banyak kecelakaan yang terjadi bukan karena faktor teknis, namun karena pengendara lepas kendali. Kebiasaan mengebut karena ingin segera tiba di tempat tujuan, sering membuat pengguna jalan kehilangan toleransi dan tidak respect terhadap pengguna jalan yang lain,” ujar Willy Suwandi Dharma, President Director Adira Insurance.

Padahal jika ditelaah, kecelakaan mayoritas terjadi terhadap mereka yang berada di usia produktif, antara 21 hingga 40 tahun. Oleh karena itu jika terjadi kecelakaan, banyak konsekuensi yang harus diterima oleh para korban kecelakaan yang sering kali belum disadari oleh para pengguna jalan raya.

Kehilangan nyawa adalah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Namun kecelakaan masih menyisakan begitu banyak rentetan permasalah serius bagi para korban, dan juga keluarga mereka. Mulai dari biaya perawatan yang sangat tinggi, bahkan dapat menyebabkan hilangnya sumber penghasilan bagi keluarga korban. Jika hal ini terus terjadi, maka dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Kenyataan inilah yang melatarbelakangi gerakan kampanye keselamatan di jalan, I Wanna Get Home Safely! (IWGHS!). Kampanye yang digagas oleh Autocillin ini telah diluncurkan pada Januari 2010 lalu, dan terus mengajak masyarakat agar berperilaku positif di perjalanan, sehingga dapat kembali pulang ke rumah dengan selamat.

Oleh karena itu, kali ini Autocillin akan menyelenggarakan kampanye IWGHS! dalam skala besar, yang akan dilaksanakan hari Minggu, (13/02) di kawasan Sudirman Jakarta (di depan Plaza UOB). Kampanye pengumpulan suporter ini akan dilakukan oleh sekitar 1.200 orang terdiri dari direksi, staff beserta keluarga, serta para rekan bisnis yang selama ini bekerjasama dengan Adira Insurance, yang juga merupakan suporter program ini.

“Kampanye ini bertujuan untuk menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas dengan mengajak masyarakat agar mau berjanji untuk berperilaku lebih positif saat di jalan. Perilaku positif tersebut harus dimulai dari diri sendiri dan berlaku untuk semua pengguna jalan. Baik itupengendara mobil, sepeda motor, sepeda, bahkan juga para pejalan kaki,” jelas Willy.

IWGHS! mengajak masyarakat untuk menandatangani sebuah Commitment Letter (Surat Komitmen/Janji) yang berlaku antara si penandatangan dengan orang-orang atau keluarga yang dikasihinya. Ketika seseorang telah menandatangani Commitment Letter, maka ia telah berjanji untuk selalu berperilaku positif ketika berada di jalan, sehingga ia dapat pulang dengan selamat sampai di rumah, demi keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Program ini diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran para pengguna jalan untuk menjaga keselamatan mereka, dengan mengubah perilaku menjadi lebih bertanggung jawab demi keselamatan kita dan keluarga!

4 thoughts on “Kampanye Road Safety: I Wanna Get Home Safely 2011

  1. Ayo, Autocillin terus laksanakan gerakkan moral ini, semoga meninspirasi bagi semuanya, ATPM, perusahan Asuransi lain, leasing Company, untuk juga bersama-sama melakukan Kampenya ini. go Autocillin

  2. sepakat dengan judul artikel di atas..! keselamatan di jalan raya emang mesti diutamakan. khusus roda 2 nih, baru Honda yang “care” ama keselamatan konsumennya. kampanye safety ridding uda nyampe ke pelosok-pelosok, pabrikan laen masih adem-ayem aja tuh.. gimana nih pelayanan ke knsumennya??

  3. goldenboy says:

    sebenernya pabrikan roda 2 yang lain juga uda jalan bro sky.. tapi emang dibandingin ama HONDA, gaungnya yang laen belum kerasa sama sekali. emang yang sering keliatan cuma Honda yang masuk ampe ke sekolah-sekolah buat sosialisasi keselamatan berkendara di kalangan anak sekolah.. saluu deh buat Honda..

  4. SETUJU!!
    Satu lagi ulasan yg jd masukan bagus bagi bikers, drivers, dan semua pengguna jalan.
    Khusus bagi bikers, apa salahnya kita mengikuti anjuran (yang di daerah tempat saya tinggal bahkan sudah menjadi Perda) tentang penggunaan Daytime Running Light?
    Rules are not made to be broken, tapi sungguh untuk kepentingan bersama. Bukan utk menyusahkan, justru untuk menyelamatkan (tdk mungkin hal yg mengada2 disetujui utk dijadikan peraturan toh??)
    Meninjau sisi keselamatan, tdk ada harga yg terlalu mahal jika menyangkut keselamatan jiwa kita dan orang lain.
    Jadi mengapa msh ngeyel??
    Lets start changing for safetier riding.
    :iloveindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *