Jambore Ring of Fire Ke-2: Keceriaan di tengah hawa dingin

JamboreROFA2-06

 

Pepatah “Adat gunung tempatan kabut” nampaknya memang tepat bila menjadi tema jambore Ring of Fire yang kedua di Baturaden Adventure Forest.  Baik dalam arti kiasan maupun harfiah. Kawasan wisata Baturaden yang terkenal sejuk dan mempunyai curah hujan yang cukup tinggi tidak menyurutkan semangat para peserta jambore untuk menghangatkan keceriaan dan keakraban di antara mereka.

Pertengahan Mei 2015,  Ring of Fire Adventure melanjutkan kesuksesan jambore yang pertama di Kaligua tahun lalu. Dan memang tepat bila pepatah di atas disematkan pada benak para peserta karena jambore ini merupakan momen bagi para peserta untuk bertanya kepada ahlinya, para instruktur dari  Eiger, Garmin dan Husqvarna Indonesia.

Adat gunung tempatan kabut berarti bertanyalah kepada orang yang pandai lagi berpengalaman. Pada kesempatan itu Eiger menghadirkan dua orang pendaki gunung yang berpengalaman untuk berbagi tips dan trik bagaimana mendaki gunung yang baik dan benar.

Adalah Djukardi “Bongkeng” Adriana yang berkesempatan membagikan pengalamannya perihal mendaki gunung. Didampingi koleganya, Kang Os, mereka berdua menyajikan bagaimana cara membuat api, memanggul ransel atau carrier dengan benar. Berjalan di puncak gunung yang berpasir, cara memilih sepatu yang tepat, membedakan tanaman yang bisa dikonsumsi dan yang beracun, membuat api tanpa korek, mencari air dan lain-lain.

Tak dinyana, ternyata sambutan para peserta diluar dugaan.  Mereka dengan antusias bertanya dan menimpali setiap tips yang diperagakan. Sehingga yang terjadi bukanlah komunikasi satu arah tetapi berubah menjadi sebuah diskusi karena beberapa di antara peserta juga membagikan pengalaman mereka.

Bagi kang Bongkeng, sapaan akrabnya, mendaki gunung sendiri bukan hanya semata mendaki gunung, tetapi soal semangat hidup, kejujuran dalam melihat alam, tentang persahabatan insan manusia dengan lingkungan dan sisi lain tentang alam yang direnda dalam jutaan cerita. Karena itu kang Bongkeng dengan senang hati menularkan dan membagi semangat dan pengalamannya kepada sahabat Rofers yang hadir di Baturaden.

Salah satu tips yang diberikan oleh kang Oz adalah, “Jangan pernah sekalipun mendaki gunung seorang diri. Lebih baik mengajak orang yang telah berpengalaman. Sangat berbahaya mendaki gunung seorang diri bagi pemula.” Ujarnya.

Kawasan wisata di lereng Gunung Selamet ini memang tidak terlalu berkabut seperti sisi lain gunung berapi ini seperti di Kaligua. Tetapi curah hujan di Baturaden termasuk yang tertinggi di Indonesia. Dan hujan deras itu pula yang membuat sesi pelatihan GPS dari tim Garmin Indonesia semakin meriah.

Di hari kedua, para peserta diajak untuk melakukan pencarian titik koordinat menggunakan GPS terbaru dari Garmin, Montana, sebuah GPS berbasis sistem operasi Android sehingga sangat mudah bagi para pemula. Waktu terasa begitu cepat saat para peserta larut dalam ajang tanya jawab dan diskusi sehingga tidak terasa hari menjelang sore dan sesi yang paling ditunggu segera dimulai.

Garmin Indonesia memberikan hadiah sebuah action cam, Garmin Virb, bagi tim yang dapat menemukan kartu yang disebar oleh panitia di kerimbunan hutan wisata Baturaden dalam waktu sesingkat mungkin. Secara bergantian, setiap tim yang terdiri dari empat peserta mencari koordinat letak kartu berwarna menggunakan GPS Montana.

Tim pertama hingga ketiga dapat menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa hambatan. Ketika tiba giliran tim keempat, hujan turun mengguyur. Bukannya menjadi sebuah halangan, semangat tim yang tersisa malah semakin terlecut. Diselingi tawa dan teriakan penggugah semangat, tiga tim lainnya dengan lincah menelusuri setiap sudut semak dan pepohonan.

Berbekal GPS yang tahan air, mereka mencari-cari di antara jutaan tetes air dan tidak gentar dengan hawa dingin yang menyergap. Basah kuyup, kedinginan dan tidak berhasil mengumpulkan kartu sesuai aturan tidak pula membuat mereka kecil hati. Tetap ceria di tengah siraman air, mereka malah berfoto bersama.

Sebelum pelatihan oleh Garmin, para peserta laki-laki bergantian melintasi trek off-road bersama instruktur dari Husqvarna Indonesia, Kadex Ramayadi. Kadex, yang telah mengantungi ijazah instruktur off-road dari BMW Off-road Academy di Muenchen membagikan banyak pengetahuan dan teknik berkendara di medan off-road.

Pria dua anak ini mengajarkan agar sebelum memasuki medan off-road, stamina, fisik dan mental haruslah siap. Setelah itu mengenali motor. Kendurkan sedikit tuas rem dan kopling. Sesuaikan kedalaman kopling dan ukur tekanan ban yang cocok untuk medan yang akan dilalui. Setelah itu, peserta diajarkan teknik berkendara di turunan dan tanjakan off-road. Sebelum sholat Jumat dan makan siang, peserta diijinkan oleh pengelola untuk melintasi jalur khusus sepeda sekaligus melatih dan menerapkan apa yang telah diajarkan oleh Kadex.

Diujung lintasan, para peserta off-road disambut gerai Eiger yang menyajikan minuman gratis. Tersedia air mineral yang segar, teh hangat dan kopi panas. Itu baru sambutan saja, Eiger juga menyediakan potongan harga bagi para peserta yang berbelanja di gerai Eiger. Saat ini Eiger tidak hanya memproduksi perlengkapan mendaki gunung tetapi telah melebarkan rentang produksi mereka untuk lari marathon, lari lintas alam, olah raga sepeda gunung dan yang terbaru adalah jaket dan celana khusus berkendara sepeda motor.

Usai makan malam, peserta menonton bersama video tentang Ring of Fire Adventure dan mendengarkan tips dari Youk Tanzil bagaimana mempersiapkan sebuah ekspedisi dengan kendaraan bermotor.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan meriah karena diselingi canda. Yang paling menarik dan ditunggu-tunggu adalah penarikan door-prize. Semuanya merupakan hadiah yang menggiurkan, mulai dari riding gear dari Eiger, helm Airoh, gogless dari Husqvarna Indonesia, base-layer dari Ring of Fire dan Rider Sport, paket hadiah dari asuransi Sinar Mas dan tentu saja action-cam dan hadiah lain dari Garmin.

Bambang Bengki Ismanto, peserta terjauh yang datang dari Kendari memenangkan helm off-road karbon yang sangat ringan dan kuat, Airoh. Garmin action-cam dimenangkan tim dari Bali, tim Kadex dan kawan-kawan. Jaket dan celana riding dibawa pulang ke Jakarta oleh Elsid Arendra. Dan masih banyak lagi hadiah lain yang dibawa pulang.

Di sela-sela acara jambore, peserta bebas menikmati berbagai fasilitas hiburan di area Baturaden Adventure Forest. Hutan wisata dengan flora yang heterogen ini dibentuk oleh alam ribuan tahun yang lalu, dan oleh pengelola, tempat ini dibuat selaras mungkin dengan alam. Kamar mandi, dapur, hingga tempat tidur dan tenda dibuat menyatu dengan lingkungan.

Pengunjung bisa dengan bebas berendam dan bermain air di sungai alami yang dialiri air yang sangat jernih di sisi tenda, atau hanya sekedar duduk-duduk di teras tenda, di tepi sungai sambil menikmati teh atau kopi hangat yang disajikan bersama cemilan khas Baturaden, tempe mendoan. Atau bisa juga menikmati lompat trampolin, flying fox, panjat tali atau rapeling–menuruni tebing dengan tali.

Jambore kali ini dirasakan lebih akrab dan interaksi sesama peserta lebih intens menurut Bambang Bhengky Ismanto. “Saya merasa kekeluargaannya makin kental, interaksi semakin akrab dan hangat. Mungkin karena peserta tidak sebanyak tahun lalu ya? Justru  menurut saya malah menjadi nilai tambah.”

Lain lagi pendapat dari Sutoto Wibowo, peserta dari Demak. Pria yang berprofesi sebagai pengajar ini yakin seandainya pengumuman jambore ini diberitahukan jauh-jauh hari, peserta akan membludak. “Beberapa teman saya sebenarnya ingin ikut, tetapi karena waktu persiapan yang mepet, mereka batal berangkat dan mendaftar. Semoga di jambore berikutnya pemberitahuan bisa dilakukan beberapa bulan sebelumnya.” Harapnya.

Baik Toto dan Bambang sama-sama terkesan dengan jambore ini karena mendapat begitu banyak ilmu dan juga jaringan pertemanan mereka yang bertambah. Berkenalan dengan berbagai latar belakang mulai dari peserta yang berprofesi sebagai petani, pendaki gunung, hingga bule Italy yang membuka restoran di Bali, Andrea Milano.

Andrea sendiri merupakan satu-satunya warga negara asing yang menjadi peserta jambore. “Saya sudah lama menetap di Indonesia dan sangat suka dengan negara ini,” ujarnya dalam bahasa gaul yang fasih. Mengendarai Yamaha RX King dari Denpasar, pria yang pandai bermain sulap ini menjajal bermain sepeda motor off-road bersama Kadex Ramayadi.

“Aku sebenarnya lebih suka race di jalan aspal, tetapi aku lihat di sini, bermain off-road ternyata juga mengasyikkan.” Pungkas Andrea dengan logat Italy yang kental.

Hari terakhir ditutup dengan berkendara bersama, dipimpin oleh instruktur dari Husqvarna Indonesia, Kadex Ramayadi, para peserta mengendarai motor mereka masing-masing mneyusuri jalan menurun dan menanjak dengan tingkat kesulitan bervariasi. Medannya lebih banyak jalan aspal dan di beberapa ruas masuk ke jalan tanah dan batu.

Sumber: Elsid Arendra Filemon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *